Mau Ditahan, Ada Intervensi, BW Batal Ditahan Polri

Pemerintah Ingin Goyang Kekompakkan KPK

Mantan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto nyaris ditahan Bareskrim Polri, Kamis (23/4/2015). Awalnya,  Bambang sempat menjalani pemeriksaan di Bareskrim Kamis Siang. Penyidik sudah menyiapkan surat penahanan dan akan dibawa ke Rutan Brimob. Kendati sudah menyiapkan segala keperluan penahanan, termasuk menyerahkan surat penahanan pada BW, namun korps baju coklat itu berubah pikiran di masa ‘injury time’.

Ada apa? “Kami memang berniat menahan Bambang Widjojanto pada hari ini. Penahanan ini karena menjawab pernyataan BW pada hari Minggu (19/4) di LBH Jakarta jika dia berharap ada kepastian hukum dalam kasusnya dalam waktu dekat,” kata seorang sumber di Mabes Polri seperti yang dikutip beritasatu.com

Bahkan, sumber yang meminta tak disebutkan namanya itu melanjutkan, awalnya pihaknya akan menangkap BW pada Selasa atau Rabu (21-22/4). Namun rencana penangkapan dan lalu penahanan itu dibatalkan hingga akhirnya dipanggil pada Kamis pagi itu. “Perintah pimpinan, jangan ditangkap, tapi dipanggil saja lalu ditahan. Makanya kami panggil dia hari ini untuk kami periksa. Alasan penahanan sendiri karena subyektif yaitu  dia sudah dua kali tidak datang saat dipanggil sehingga tidak kooperatif dan obyektif karena ancaman pasal yang menjeratnya,” bisik sumber tersebut.

Makanya, sumber itu melanjutkan, sejumlah persiapan sudah dilakukan untuk penahanan Bambang Widjojanto. Mulai dari persiapan sel di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua karena di Rutan Bareskrim ada Zulfahmi Arsyad–tersangka lain dalam kasus yang sama– lalu juga tim Resmob yang akan mengawal BW dari Bareskrim ke Depok.

Lalu juga mobil yang akan membawa BW, voorijder pembuka jalan, dokter yang akan memeriksa sebelum ditahan, hingga surat penahanan yang sudah dikonsep. Surat penahanan itu berlaku untuk masa penahanan selama 20 hari ke depan. “Bisa dibilang, pemeriksaan hari ini itu hanya alasan memanggil untuk ditahan supaya kasusnya segera ada kepastian. Makanya pertanyaan-pertanyaan tadi itu ya pertanyaan biasa saja, sepantasnya,” ingatnya.

Hingga, masih kata sumber itu, sekitar pukul 16.00, surat penahanan untuk BW pun sudah diberikan kepada yang bersangkutan setelah dia diperiksa sekitar empat jam. Bambang yang didampingi dua pengacaranya, salah satunya Saor Siagian, sempat menyatakan keberatannya. “Tapi surat penahanan itu sudah dia tandatangani dengan menyatakan sejumlah keberatan. Saat itulah, tak lama kemudian, datang perintah supaya tidak usah ditahan. Jadi, ya sudahlah, kita menjalankan

perintah,” lanjutnya.
Sumber itu tak membocorkan siapa yang melakukan intervensi supaya penahanan BW dibatalkan itu. Namun dia menyebut jika intervensi itu untuk,”kepentingan yang lebih besar dan stabilitas keamanan karena Indonesia sedang menggelar KAA.”

Untuk itu, menurutnya, saat ini sudah tertutup alasan “subyektif” menahan BW karena dia datang memenuhi pemeriksaan pada hari ini. Satu-satunya kemungkinan bisa ditahan jika berkasnya sudah dinyatakan P-21 kelak.

Saor yang usai mendampingi BW memang membenarkan jika kliennya sempat menandatangani surat penahanan. “Awalnya memang akan ditahan, tapi ternyata surat penahanannya ditarik. Gak jadi ditahan. Apa alasannya, jangan tanyakan saya. Tanyakan ke Polri,” tegasnya.

Kabareskrim Komjen Budi Waseso membantah adanya intervensi dalam batalnya rencana penahanan BW. Menurutnya sejak awal pihaknya memang tidak menitikberatkan pada penahanan yang bersangkutan. “Intervensi dari siapa? Surat penahanan yang mana? Tak benar kita batal menahan karena tidak ingin suasana menjadi gaduh,” ujarnya.

Sementara Direktur Pidana Khusus Bareskrim Brigjen Victor Simanjutak menyatakan jika rencana penahanan  itu memang ada. Namun dibatalkan karena kooperatif. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti yang dihubungi ‎terpisah pun mengatakan singkat,”Tidak ditahan.” ‎Pada pukul 16.42 WIB, BW meninggalkan Bareskrim tanpa menjawab pertanyaan wartawan‎. (bst)