Maspion Ditawari Bangun Power Plant di Bali

 

Maspion Ditawari  Bangun Power Plant di Bali

Pemerintah Provinsi Bali membuka peluang investasi bagi para pebisnis di sektor energi untuk membangun power plant di Bali. Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta mengatakan saat ini Bali masih membutuhkan pasokan energi atau listrik yang lebih banyak untuk mendukung kebutuhan masyarakat, industri dan pariwisata.

Selama ini Bali mendapat pasokan listrik dari Jawa sekitar 300 MW, sedangkan beban puncak listriknya mencapai 734 MW yang dipasok dari pembangkit listrik skala kecil serta PLTG.“Ini sangat kami butuhkan. Setidaknya Bali ke depan membutuhkan 6.000 MW pasokan listrik,” ujarnya usai menghadiri penandatanganan MoU PT Marindo Gemilang dengan Luxury Hotels Management Company B.V.

Sudikerta mengatakan pemerintah Bali akan memberikan kemudahan perizinan bagi investor yang mau membangun power plant. Pemprov Bali, lanjutnya, akan menyiapkan lokasi di wilayah Bali Utara dan Timur karena kawasan tersebut memiliki pelabuhan yang representatif.“Mudah-mudahan perusahaan seperti Maspion Group nanti tidak hanya bisnis di bidang industri pariwisata tapi juga berpartisipasi mengembangkan potensi di bidang power plant,” imbuhnya.

Dia menambahkan, selain mempermudah perizinan, pihaknya juga sedang menyiapkan infrastuktur dengan membangun pelabuhan di Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Karangasem.“Di Buleleng masih konstruksi dan belum beroperasi. Infarstruktur ini kami tawarkan kepada Maspion juga agar investasi di bidang power plant lebih mudah,” imbuhnya.

Presiden Direktur Maspion Group Alim Markus mengatakan bahwa untuk berinvestasi di Bali memang seharusnya tersedia infrastruktur pelabuhan yang memadai lantaran diperlukan untuk pendistribusian batu bara sebagai bahan utama pembangkit istrik. “Kalau ada pelabuhan di sana, ya saya mau membangun PLTU, selain bidang perhotelan dan wisata,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jatim itu. (bns/ram)