Masih Banyak Mengarah pada Simbol, Bukan Esensi

Masih Banyak Mengarah pada Simbol, Bukan Esensi
Hotel Mercure Grand Mirama yang getol mengkampanyekan green building.

Konsep bangunan hijau (green building) yang selama ini digadang-gadang dapat menekan penggunaan energi, belum dipahami secara esensial oleh pelaku industri perhotelan di Surabaya. Ini karena masih banyak hotel di Surabaya yang belum mengerti akan dampak pencemaran limbah hingga penggunaan energi yang berlebihan.

Hal itu diungkapkan Pemerhati Lingkungan, Sugeng Sigit Martono. “Konsep green building yang telah dilakukan di gedung-gedung pencakar langit Surabaya masih mengarah pada simbol-simbol saja, belum mengarah pada esensi dari green building itu sendiri,” katanya kepada enciety.co, Senin (10/10/2014).

Masih Banyak Mengarah pada Simbol, Bukan Esensi
Sugeng Sigit Martono

Dikatakan Sugeng, sekarang di Surabaya lagi ngetren membangun sebuah gedung bertingkat dengan gaya scrulpture garden. Artinya, ada taman di atas gedung tinggi.

“Itu pada dasarnya bisa dikatakan salah satu item yang mendukung green building, tapi itu bukan esensi dari green building itu sendiri, itu masih simbol semata,” tegas alumnus Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.

Dia lalu mencontohkan, pembangunan gedung Graha Sampoerna yang mendesain pembangunan dengan cara menjuraikan tanaman hijau di sekililing bangunan. Hal itu  dianggap bukan esensi karena Sampoerna hanya menampakkan hijaunya tanaman di bidang luar saja.

Menurut dia, green building sendiri lebih mengarah pada reformasi operasional penggunaan energi dan pemanfaatannya. Artinya, jika pelaku perhotelan telah menekan penggunaan energi di bawah rata-rata gedung yang ada, maka dapat dikatakan telah mengarah ke konsep green building.

“Tarif Dasar Listrik (TDL) setiap tahun kan naik terus jadi tolok ukurnya bukan biaya yang dikeluarkan per bulan, tapi energi yang dikeluarkan per bulan itu apa bisa ditekan atau tidak. Misalnya saja, kalau dulu satu hotel bisa menghabiskan seribu KWH listrik, karena ditekan penggunaanya dalam satu tahun hotel tersebut tidak sampai habis seribu KWH listrik,” papar papar dia.

Caraya, terang dia, bisa dilakukan dengan mengganti instrumen dan infrastruktur energi yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Di antaranya dengan menggunakan pendingin ruangan yang ramah lingkungan, lampu LED, dan lain sebagainya.

Selain itu, sambung Sugeng, tolok ukur green building juga mencakup pemanfaat limbah. Seperti mengolah air limbah untuk digunakan menyiram tanaman, flasher menyiram toilet, dan lain sebagainya. Upaya ini juga dikatakannya bisa menghemat penggunaan air yang tinggi sekali.

“Saya rasa harus ada keberanian untuk menjalankan paradigma bahwa penggunaan air limbah itu ternyata disukai oleh costumer. Karena lebih dari 10 persen costumer hotel sekarang sudah banyak berani menyatakan bahwa mereka akan tinggal di hotel yang menerapkan program green building,” jelasnya.

Kenyataan ini menunjukkan jika masyarakat sudah jauh lebih berkembang dibanding pelaku bisnis perhotelan itu sendiri. Bahkan dilihatnya terkadang ada costumer yang memilih hotel yang memanfaatkan air limbah ketimbang hotel yang menggunakan air bersih.

Sugeng lalu mencontohkan, di Surabaya sendiri belum banyak hotel yang mengklaim bahwa dirinya green building. Misalnya saja, berani mengatakan kalau menggunakan sabun mandi, sampo, dan pasta gigi secara herbal.

“Justru, kalau saya melihat belum ada hotel yang mengumumkan berlabel eco-management. Atau manejemen yang pro lingkungan,” terangnya.

Meski begitu, menurut Sugeng, telah banyak hotel yang telah menerapkan Perda Surabaya tentang pemilahan sampah, perda tentang peraturan Bahan Berbahaya dan Beracun (BBB). Namun diperlukan langka inovatif dengan berani menyatakan bahwa hotel tersebut mereformasi semua manejemen menjadi manajemen yang pro lingkungan.  Baik mulai pemanfaatan energi, penggunaan air limbah, sampai penggunaan sabun harus mengarah pada ramah lingkungan.

Sugeng juga mengkritisi masih sedikitnya hotel di Surabaya yang menerapkan sirkulasi udara di kamar hotel yang lebih banyak. Justru sebalaiknya, hotel-hotel khususnya kelas melati di Surabayaa cenderung kamarnya tertutup tanpa jendela. Ini akan mempengaruhi penggunaan energi lebih tinggid dengan kata lain ventilasi yang kurang akan berakibat pada penggunaan pendingin ruangan di tiap kamar yang tinggi.

“Terutama mereka yang low cost (hotel yang hanya digunakan untuk tidur) mereka justru tidak menggunakan jendela dan banyak yang tertutup dengan dalih privasi. Padahal ini berakibat pada ketergantungan pada pendingin ruangan yang cukup tinggi. Tapi ini jarang diterapkan di hotel yang sudah berbintang,” ujarnya.

Kata dia, penggunaan ventilasi dan penggunaan kaca itu akan mengurangi penggunaan lampu dan energi pendingin ruangan. Besarnya penggunaan kaca juga tidak berpengaruh pada efek rumah kaca.

“Karena efek rumah kaca itu timbul bukan dari pantulan cahaya matahari ke kaca, melainkan produksi gas buang karbondioksioda CO2 dan gas metan NH4 yang jauh lebih tinggi sehingga berdampak pada terjadinya global warming,” ujarnya.

Di satu sisi, pelaku perhotelan di Surabaya juga masih belum banyak mengerti akan fungsi kaca dan dampaknya. Seperti disampaikan Chief Enginering Novotel Surabaya Novendra.Menurut dia, latar belakang pengurangan penggunaan kaca di kamar hotelnya lantaran takut akan dampak global warming.

“Iya memang kami tidak banyak menggunakan kaca di kamar hotel. Hanya saja kami mencari cara lain dengan membuatkan balkon kamar agar cahaya dan udara bisa masuk ke kamar hotel,” terangnya.

Novendra beranggapan kaca akan berdampak pada pantulan cahaya matahari yang mengakibatkan menipisnya lapisan ozon di atmosfer bumi.

Akan tetapi Sugeng menambahkan, efek rumah kaca itu bukan dari banyaknya jumlah kaca tapi lantaran produksi gas buang dari kendaraan dan pabrik yang menyebabkan cahaya matahari yang harusnya memantul kembali ke angkasa terhalang oleh CO2 dan NH4 yang jumlahnya banyak. “Makanya langitnya tidak biru,” tukas dia.

Problem green building memang menjadi agenda penting pembangunan kota. Tak terkecuali Surabaya. Semua elemen masyarakat harus belajar dengan terus meng-update dan berinovasi agar bisa menciptakan keramahan pembangunan kota. Yang terpenting, green building bukan hanya jadi kampanye semata, tapi diaktualisasikan dalam konsep pembangunan kota ke depan. (habis/wh)

1 komentar di “Masih Banyak Mengarah pada Simbol, Bukan Esensi

  1. usaha boleh sajalah yg penting Surabaya bisa lebih hijau dan lebih suejuk lagi dan taman-tamanya masih ttp gratiiiiisss

Komentar di tutup.