Masakan dan Memasak: Belajar dari Generasi Post-Millenial

Masakan dan Memasak: Belajar dari Generasi Post-Millineal

Unung Istopo Hartanto, peneliti senior Enciety Business Consult.foto:arya wiraraja/enciety.co

Binar wajahnya tampak saat anak-anak itu terus berlari. Layaknya sebuah pertandingan. Ya, lengkap dengan apron celemeknya, sangat percaya diri menghampiri ruang yang dipenuhi daging, sayur, buah dan aneka bumbu. Tangannya cekatan memilih dan memilah, memasukkannya dalam keranjang dan terus berlari kembali di depan juri. Menuju dapur untuk segera menyelesaikan kompetisi dan tampil sebagai juara.

Adegan penuh semangat ini biasa kita saksikan dalam sebuah episode Junior Cooking Show di layar kaca. Memasak bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan. Bagi post-millenial, ini merupakan experience luar biasa. Makin tersedianya peralatan dapur yang beragam, mudah dan membangkitkan imajinasi. Menjadikannya memasak menjadi karya yang bukan hanya dinikmati dan dirasakan oleh lidah, tetapi sedap dipandang oleh mata, serta menjadi kepuasan mengaktualisasikan kegemaran.

Bagi rumah tangga, memasak merupakan aktivitas harian yang memastikan konsumsi makanan dengan tepat. Melibatkan anak dalam menyiapkan sajian makanan keluarga akan memberikan panduan tentang makanan. Mulai dari mengolah bahan menjadi makanan utama (core), pelengkap (subsidiary) dan ketrampilan menyajikannya (food preparation). Selain tentu akan makin melembutkan dan mengokohkan komunikasi orang tua dan anak.

Dapur juga mengajarkan banyak hal. Memanfaatkan bahan dan menggunakan peralatan untuk membuat acar, saus salad, memotong dan memanaskan, membumbui dan mencampurnya dalam wadah yang siap dimasak.

Generasi post-millenial makin punya ruang ekspresi dengan kemudahan pencarian resep melalui search engine. Bahkan tak jarang, saat di dapur, gawai setia menemani. Mengikuti langkah tiap langkah. Mulai dari hal yang paling mudah, hingga menjadi master.

Data google trend 2018 di Indonesia, makin meyakinkan pencarian tentang “masakan rumahan” naik 3.5 kali lipat. Sekitar 6.000 channel Youtube tentang makanan memiliki pertumbuhan 5 kali lipay y.o.y. Kata kunci “resep” juga mengalami trend dalam 5 tahun terakhir.

Fenomena ini tentu bukan hanya terkait generasi post-millenial. Namun merekam perilaku ini pada generasi post-millenial akan menjadi pengalaman riset tersendiri. Dalam struktur demografi, generasi post-millenial Indonesia berkisar 25% yang akan menjadi kekuatan. Yang merupakan generasi digital native yang penuh dengan inovasi.

Data Bekraf menunjukkan, kuliner menempati urutan teratas dalam ekonomi kreatif, hampir 42% dari seluruh kategori. Ekonomi kreatif nasional terus tumbuh dan menyumbang lebih dari 7.4 % terhadap PDB.

Tumbuhnya model bisnis baru, memadukan antara kuliner dengan art visual, video dan sosial media menjadikan menikmati masakan bukan sekadar memenuhi empat sehat lima sempurna atau kalori saja. Bukan hanya untuk hidup. Tetapi masakan dan memasak menjadi bagian dari gaya hidup yang turut mendorong anak-anak menjadi punya ruang dalam menuangkan ide dan gagasan.

Ide dan gagasan yang dimulai dari dapur. Menjadikan dapur bukan hanya tempat mencampur tetapi juga “sekolah”. Sekolah tentang keahlian, ketrampilan, kecekatan, kesabaran, dan kreativitas.

Salam. (*)