Manfaatkan Big Data untuk Atasi Lonjakan Bahan Pokok

Manfaatkan Big Data untuk Atasi Lonjakan Bahan Pokok

Ilustrasi foto:cohive.space

Skema dengan memanfaatkan big data dibutuhkan dalam menanggapi permasalahan kebutuhan pokok yang melonjak tinggi jelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

Hal itu ditegaskan Rahma Gafmi, pengamat ekonomi dan bisnis Universitas Airlangga Surabaya.

“Misalnya Jawa Timur ini ada tiga puluh delapan kabupaten dan kota, masing-masing kabupaten dan kota berapa jumlah kebutuhan bahan pokoknya? Kebutuhan daging setiap bulan berapa banyak? Ditambah adanya bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang pastinya meningkat demand-nya. Karena Ramadan dan hari raya Idul Fitri adalah momen yang terjadi setiap tahunya,” ungkapnya, Jumat (22/4/2022).

Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri merupakan moment tahunan yang tidak bisa terlewatkan, bahkan ketika ada masyarakat yang tidak memiliki uang yang cukup. Maka dengan segala cara ia akan mencukupkan kebutuhannya selama bulan Ramadan, terlebih mayoritas penduduk Indonesia adalah kaum muslim.

Menurut Rahma, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Industri harus meninjau langsung kondisi yang terjadi di jajaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan tiap daerah. Nantinya kementerian berkoordinasi dengan pemerintah daerah perihal kebijakan yang harus dilakukan dalam menangani lonjaknya bahan pokok.

Namun bukan hanya Kementerian Perdagangan dan Kementerian Industri saja yang turun tangan, akan tetapi bagaimana pendistribusian tersebut bisa merata ke seluruh Indonesia dalam hal ini adalah Kementerian Perhubungan.

“Misalnya dengan penegak hukumnya adalah kepolisian dan kejaksaan untuk memantau suatu penimbunan, supaya tidak dilakukan kecurangan-kecurangan seperti yang telah dilakukan di komoditas minyak goreng saat ini,” jelasnya.

Rahma berpesan kepada masyarakat Indonesia sebaiknya jangan melihat pertumbuhan ekonomi, namun produktivitasnya. Apabila pertumbuhan ditopang dengan produksi, maka akan tumbuh. Namun apabila terjadi konsumsi saja dan berkepanjangan, maka hasilnya akan tidak maksimal karena tidak adanya produktivitas.

“Jadi kita jangan fokus ke pertumbuhan ekonomi saja tapi ke produktivitasnya. Karena apabila produktivitas tumbuh, itu kan membutuhkan sumber daya manusia. Apabila sumber daya manusia tersebut dibutuhkan maka akan mendapatkan income dan benefit berkepanjangan,” pesannya. (wh)