Malas, 15 Kejari di Jatim Dapat Rapor Merah

 

Malas, 15 Kejari di Jatim Dapat Rapor Merah
Febrie Adriansyah, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim

Sebanyak 15 Kejaksaan Negeri (Kejari) di Jatim mendapat rapor merahlantaran lambat tangani pengaduan kasus korupsi di daerahnya masing-masing. Mereka dinilai tak tanggap dalam merespons pengaduan masyarakat terkait. Kini, ke-15 Kejari tersebut disupervisi oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim.

Supervisi ini sendiri berlangsung selama tiga hari mulai Senin (14/6/2014) lalu hingga Rabu  (16/7/2014). Pihak Kejati untuk melakukan supervisi telah menugaskan dua tim untuk melakukan bimbingan secara langsung.

Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim Febrie Adriansyah mengatakan, supervisi tersebut diberikan agar pihak kejari tidak malas melakukan penelusuran laporan masyarakat dalam kasus korupsi.

“Ke15 Kejari ini tidak tanggap dalam merespons aduan dugaan korupsi di daerahnya masing-masing,” ujar Febri, Rabu (16/7/2014).

Belasan Kejari yang dinilai kurang tanggap itu beberapa di antaranya Kejari Probolinggo, Bangkalan, dan Jember. Seluruhnya dianggap mendapat rapor merah karena tak segera menindaklanjuti aduan masyarakat.

Dua tim yang diterjunkan, terang Febrie, dipimpin langsung oleh jaksa senior yang juga mantan kepala kejari di beberapa daerah. “Tim dipimpin langsung oleh Pak Ali Saptu dan Baderi,” imbuhnya.

Tak hanya memperoleh bimbingan langsung, kejari yang mendapat rapot merah juga diberi target untuk membuat laporan konkret terkait aduan masyarakat yang diterima. Paling lambat, laporan diserahkan ke Kejati Jatim pada akhir Agustus mendatang. (wh)