Mal di Era Pandemi, Antara Bertahan dan Tuntutan Inovasi

Mal di Era Pandemi, Antara Bertahan dan Tuntutan Inovasi

Saah satu ruang di RS Cito.foto:humas pemkot surabaya

Memasuki tahun kedua pandemi covid-19, keberadaan mal masih lesu darah. Banyak pengelola mal kelimpungan. Berbagai upaya dilakukan untuk menggairahkan aktivitas di mal. Dari penawaran tempat atau fasilitas baru hingga obral diskon gede-gedean.

Sepinya mal juga membuat pengelola membuat terobosan “radikal”. Lippo Plaza Mampang dipakai sebagai rumah sakit yang menangani pasien covid-19. Rumah sakit tersebut dapat merawat 415 pasien. Tahap awal dibuka 180 tempat tidur.

Di rumah sakit tersebut juga dilengkapi fasilitas intensive care unit (ICU) dan high care unit (HCU) dengan jumlah 18 tempat tidur. Kemudian fasilitas gawat darurat dengan kapasitas 11 tempat tidur.

Hal serupa juga terjadi di Surabaya. Sekira dua pekan lalu, City of Tomorrow (Cito), mal yang berada di perbatasan pintu masuk Surabaya, juga dipakai rumah sakit menangani pasien Covid-19. Pengelola menjamin, meski berada di area mal, namun bangunan gedung yang digunakan untuk rumah sakit ini bersekatan.

Di Cito, tersedia 105 kamar dengan single bed. Kapasitas kamar di rumah sakit ini masih dapat ditambah sesuai kebutuhan ke depannya. Bisa naik sampai 186 kamar. Berikut dengan ketersediaan 8 ICU yang bisa ditambah menjadi 16 ICU.

Dimas Pratama, peneliti enciety Business Consult (EBC), menilai adanya mal yang menjadi rumah sakit tak lepas dari konsep kawasan yang mixed-use. Di mana, dalam satu bangunan punya beberapa fungsi. Selain mal, ada apartemen, hotel, sekolah, dan lainnya

“Yang menjadi catatan, bagaimana dengan pengelolaan limbahnya? Apakah menjadi satu dengan mal?” ujar Dimas.

Dimas menuturkan, mal memang tak bisa menghindari tiga realitas di masa pandemi. Yakni, mal mengalami sepi pengunjung, sepi transaksi, dan sepi okupansi.

Dia lalu menunjuk tingkat pengujung mal di Surabaya. Berdasarkan catatan Bisnis, sebelum pandemi, Tunjungan Plaza bisa dikunjungi hampir 13 ribu unit mobil per harinya. Pakuwon Mall dan Pakuwon Trade Center bahkan bisa dikunjungi 15-22 ribu unit mobil per hari. Namun ketika pandemi, kunjungan merosot drastis. Hingga 50-60 persen lebih.

“Banyak upaya sudah dilakukan menggairahkan. Menggelar grand sale, misalnya. Namun faktanya tak sesuai ekspektasi,” tandas Dimas.

Frandy Agustinus, peneliti EBC lainnya, menegaskan mal adalah salah satu wahana wisata masayarakat. Di mana mal menyediakan berbagai fasilitas hiburan, tempat nongkrong, dan tempat belanja.

“Kalau kemudian di mal ada rumah sakit, tentu kita bisa bertanya, bagaimana jaminan kesehatannya,” ujar dia.

Bagi dia, berkunjung di mal harus memberikan kenyamanan, terjamin kebersihan, dan di masa pandemi ini banyak orang akan memilih tempat yang memiliki sirkulasi udara yang bagus.

Hikma Ilmia Fitri, peneliti EBC lainnya, mengatakan, tahun kedua pandemi pengunjung di mal mulai menunjukkan peningkatan. “Hanya kalau soal transaksi masih belum,” cetusnya.

Fitri mengelola dua tenant di mal di Surabaya. Menjual produk-produk fashion. Dia menikmati kondisi di mal di masa pandemi. Dari Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mewajibkan mal buka pukul 12.00 sampai 19.00. Ketika Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), mal buka pukul 10 pagi, tutup pukul 8 malam. Sedang saat PPKM Mikro buka pukul 10 pagi, tutup pukul 9 malam.

“Meski dibatasi, tapi kita bayar sewanya tetap. Tidak ada kelonggaran. Tidak ada skema yang meringankan tenant,” aku Fitri.

Fitri mengaku tahun pertama pandemi benar-benar memukul usahanya. Pasalnya, adanya pembatasan itu sangat berdampak pada pendapatan. Betapa tidak, pengunjung mal biasanya ramai pada jam 18.00 sampai jam 9 malam. Sementara pada jam-jam tersebut mal harus tutup.

“Kita dipaksa buka, sementara kunjungan sepi,” keluhnya.

 Mal di Era Pandemi, Antara Bertahan dan Tuntutan Inovasi
Lenmarc, salah satu mal di Surabaya Barat. foto:dok/enciety

Daya Beli Masih Tinggi

Belum bergairahnya aktivitas di mal di masa pandemi karena dipengaruhi faktor daya beli masyarakat yang menurun?

Untuk diketahui, penduduk Surabaya 2020 sebanyak 2.9 juta jiwa, jumlah generasi milenial sekitar 37 persen, “generasi Z” sebanyak 28 persen. Artinya, jumlah anak mudanya mencapai 65 persen. Belum termasuk pendatang yang bukan ber-KTP surabaya. Baik mereka yang cuma singgah untuk berlanja, liburan, atau mereka yang menetap di Surabaya namun bukan ber-KTP Surabaya.

Dilihat dari struktur ekonomi 10 tahun terakhir tidak banyak berubah. Tiga sektor yang paling besar berkontribusi pada nilai tambah ekonomi Surabaya adalah perdagangan besar dan eceran (termasuk reparasi mobil dan motor) sekitar 28 persen. Lalu sektor industri pengolahan berkontribusi sekitar 19 persen dan sektor akomodasi makan minum berkontribusi sekitar 16 persen. Ini artinya berbagai aktivitas perdangangan, termasuk ritel dan pemenuhan gaya hidup masih menjadi penopang terbesar ekonomi Surabaya.

Hasil survei Bank Indonesia, sekitar 70 persen pengeluaran masyarakat di Surabaya untuk konsumsi kebutuhan sehari-sehari, 20 persen ditabung dan 10 persen untuk bayar cicilan.

“Di Surabaya masyarakat kelas menengah jumlahnya hampir 50 persen. Konsumsi lifestyle tetap besar. Itu tidak masuk transaksi offline. Artinya, daya belinya masyarakat cukup tinggi,” papar Frandy Agustinus.

Kata dia, di situasi normal, mereka yang belanja di mal bukan hanya warga Surabaya, tapi juga juga warga di beberapa daerah di Jawa Timur, bahkan dari Indonesia Timur.

Jika berbicara daya beli penduduk kelas atas di Surabaya, terang Frandy, tahun 2017 mencapai 1,36 juta jiwa (47,3%) dari total penduduknya. Angka tersebut meningkat hampir 4 kali lipat dalam kurun waktu 7 tahun.

Surabaya sendiri, imbuh Frandy, adalah kota yang memberikan sumbangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar di Provinsi Jawa Timur, yaitu 24.7% atau memiliki nilai Rp 580 triliun dari Rp 2.352 triliun.

Fakta masih tingginya daya beli masyarakat di Surabaya diamini Dimas Pratama. Menurut dia, di Surabaya telah berdiri 30-an mal. “Tahun ini, ada dua mal baru yang akan dibangun di Kota Pahlawan. Yakni, Ciputra World Surabaya Mall 2 dan Capital Square Surabaya. Tahun berikutnya, ada 3 mal lagi dibangun,” ungkapnya

Dimas juga memaparkan inflasi Surabaya sebesar 0.37%. Bisa dibilang cukup stabil. Yang memberikan sumbangsih terbesar ada di sektor makanan dan minuman.

“Bisa dikatakan bahwa ekonomi Surabaya di masa covid-19 ini masih memiliki gairah,” papar Dimas.

Hikma Ilmia Fitri menambahkan, perilaku orang datang ke mal memang telah berubah. Sebelumnya, banyak orang datang ke mal karena ingin jalan-jalan, nongkrong, dan memenuhi selera hiburan saja.

“Sekarang mereka datang ke mal dengan tujuan memenuhi kebutuhannya,” katanya.

Fitri menyebut beberapa produk yang dijualnya. Sebelumnya baju formal seperti gamis yang paling laku. Ketika pandemi justru model piyama dan baby doll yang laris manis. Penjualannya naik lebih 50 persen.

“Baju rumahan dengan motif kekinian yang paling digemari. Sekarang tidak jarang juga orang ke mal pakai piyama,” jlentreh Fitri.

Dia juga menjelaskan kenapa tidak menutup store-nya. “Kita membangun konsumen susah. Memang ada penjualan online. Tapi konsumen kan karakternya macem-macem. Mereka yang tak mau beli online karena ingin barangnya atau ukurannya sesuai harapan,” tegasnya.

 Mal di Era Pandemi, Antara Bertahan dan Tuntutan Inovasi
Tunjungan Plaza sebelum [andemi covid-19.foto:dok pakuwon jati
Butuh Kolaborasi

Masa pandemi yang belum tahu kapan akan berakhir mewajibkan semua pemilik mal berinovasi. Ada beberapa hal yang pantas dipertimbangkan. Pertama, mal harus memiliki konsep outdoor atau ruang terbuka. Hal itu memiliki daya tarik untuk memikat pengunjung di masa pandemi ini.

Kedua, mal dan penyewa ritel harus mau mengurangi keuntungan sepanjang pandemi. pengelolah mal bisa memberikan diskon bagi penyewa ritel atau mengizinkan penyewa mencicil tarif sewa selama pandemi.

Ketiga, promosi di media sosial juga penting digencarkan terutama promosi terkait penerapan protokol kesehatan. Tujuannya untuk meyakinkan pengunjung yang ragu-ragu agar tidak takut lagi datang ke mal.

Keempat, melakukan renovasi layout terutama untuk mengakomodasi sirkulasi pengunjung dan disesuaikan dengan jumlah toko dan ruang terbuka.

Kelima, mal bisa menyediakan fasilitas selain tempat belanja, baik itu fasilitas olahraga, atraksi wisata, atraksi seni, hingga tempat edukasi.

Keenam, mal benar benar memastikan bahwa lingkungan mal benar benar bebas covid-19. Protokol kesehatan harus menjadi acuan bagi para tenant saat beroperasi kembali di tengah pandemi yang masih menghantui. Misal menyediakan hand sanitizer, alat pengukur suhu tubuh, pengaturan jarak fisik di lift, eskalator, antrean hingga wajib menggunakan masker. Meningkatkan kebersihan di dalam mal dengan melakukan penyemprotan disinfektan, pembersihan rutin oleh pihak house keeping di fasilitas umum.

Mal juga bisa melakukan inovasi dengan personal shoopper. Mirip jasa titip (jastip). Ini sangat membantu jika ada promo dan barang di mal, khususnya barang-barang premium,” tegas Dimas Pratama.

Dia juga menjelaskan sejumlah daya tarik di mal. Di antaranya adanya anchor tenant, resto atau kafe premium, bioskop, event, theme park atau foodcourt tematik, dan lokalisasi tenan (sentra toko mas, sentra batik), dan lainnya.

Pandemi mendesak terjadinya kolaborasi antara mal dengan aplikasi seperti GoJek, Grab, dan e-commerce companies. “Faktanya, banyak orang mencari barang di e-commerce, kemudian datang ke mal hanya untuk mengecek barang, dan membeli di e-commerce karena harga lebih murah, dapat cash back, dan ongkirnya murah,” tuturnya.

Fajar Haribowo, Senior Consultant EBC, menegaskan, untuk bertahan dan berkembang di era modern, pengelola mal dan tenant perlu fokus pada realitas utama ini. Pertama, pengelola mal perlu fokus pada kesehatan dan inovatif dalam menciptakan kenyamanan

“Harus tahu keinginan konsumen, interaksi sosial, belanja, dan sebagainya. Pemilik mal dan tenant harus menemukan cara inovatif untuk menyesuaikan keinginan pengujung (co-creation),” tandas Fajar.

Menurut dia, pemilik mal harus lebih banyak berinvestasi untuk peningkatan fasilitas higienis. Ini sebagai respons atas kesadaran yang lebih tinggi tentang kesehatan masyarakat. Pusat perbelanjaan dapat disertifikasi oleh otoritas terkait sebagai bebas covid-19, yang dapat dipertahankan dengan menguji setiap pengunjung sebelum masuk.

Selain itu, mal harus meningkatnya touch-less shopping experience. Misal: memperbanyak pembayaran mandiri, dan penggunaan layar sentuh, shopping mall online dengan virtual reality atau augmented reality di tenant, serta promotion program.

Kedua, efisien dalam pemanfaatan ruang. Pemilik mal harus meredefinisi fungsi outlet. Tenant-tenant perlu mempertimbangkan kembali ukuran dan jumlah toko, menghilangkan toko yang berkinerja buruk dan berfokus pada customer experience, ruang pamer, dan sebagainya.

“Konsumen sekarang tidak lagi datang hanya untuk melihat-lihat. Mereka akan tiba dengan mengetahui apa yang mereka inginkan, dan mencari intersection antara online dan offline store menjadi penting,” jelas Dimas.

Ketiga, membuka peluang untuk hadirnya anchor tenant baru. Ini bisa dilakukan salah satunya dengan menghadirkan private restaurant dengan layanan room reservation, jaminan kebersihan.

Positive thinking-nya, hengkangnya tenant akan memberi ruang bagi pemilik mal untuk menghadirkan tenan baru. Brand yang viral di online market juga menarik dihadirkan di mal,” pungkas dia. (wh)