Mahfud Md: Koruptor Dihukum Mati

Mahfud Md: Koruptor Dihukum Mati
Aviliani dan Mohammad Mahfud Md dalam Workshop bertema “Indonesia Lima Tahun ke Depan: Pemikiran Tokoh Nasional” di gedung Rektorat Unair Jumat (14/3/2014)

 

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfud Md bersuara soal penegakan hukum bagi kasus korupsi. Dalam Workshop bertema “Indonesia Lima Tahun ke Depan: Pemikiran Tokoh Nasional” di gedung Rektorat Unair Jumat (14/3/2014), Mahfud mengatakan Indonesia harus mempunyai peraturan baru. Khususnya tentang hukuman bagi para koruptor. Ia berpendapat, hukuman bagi para koruptor tidak ada ketegasan dan kejelasan.

Ia mengusulkan solusi berupa ancaman hukuman mati. “Kayak Cina itu lo. Karena di Indonesia hukuman mati, enggak. Dibebaskan, enggak,” selorohnya. Ujung-ujungnya, koruptor yang dihukum sebatas yang sedang apes. Bukan benar-benar hasil penegakan hukum.

Ia menilai, kapasitas Komisi Pemberantasan Korupsi selama ini kecil. Padahal pelakunya lebih banyak. Maka ancaman hukuman mati untuk koruptor wajar diwacanakan. “Harusnya bukan dalam keadaan krisis saja, karena kondisi krisis itu tidak jelas indikatornya,” katanya.

Sebab sebelumnya, terdapat perdebatan penyusunan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Seseorang yang korupsi akan dihukum mati bila negara dalam keadaan krisis. Tetapi guru besar Universitas Islam Indonesia itu dengan tegas menolak.

“Semua yang korupsi harus dihukum mati. Kalau tidak begitu, paling hukumannya cuma 20 tahun. Itu pun dapat keringanan,” ungkapnya.

Sayangnya, Indonesia tidak akan dapat memberantas habis para koruptor. Ia menilai, penyebabnya adalah birokrat atau wakil rakyat yang merupakan pemain lama yang berpindah partai hanya untuk menutupi kasusnya. “Sekarang ini kita tidak jelas, mau menghukum tidak, mengampuni pun juga enggak,” ujar dia.(wh)