Mahasiswa Unitomo Temukan Varian Es Krim Mengkudu

Mahasiswa Unitomo Temukan Varian Es Krim Mengkudu
Syamsul Arifin, mahasiswa Unitomo Surabaya, menunjukkan es krim varian mengkudu hasil kreasinya, Kamis (26/3/2015).

Persedian buah mengkudu yang melimpah dan belum banyak dimanfaatkan membuat mahasiswa Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya meramunya menjadi es krim. Dia adalah Syamsul Arifin, mahasiswa Program Studi Teknologi dan Pangan Fakultas Pertanian yang berhasil menciptakan varian baru es krim yang lebih sehat.

Lazimnya dengan es krim pada umumnya, es krim mengkudu temuan Syamsul ini terlihat menggoda selera. Ini karena es krim mengkudu tersebut tersedia dengan berbagai warna, mulai dari pink, hijau, merah, dan putih. Namun apa bedanya dengan es krim lainnya?

“Sebenarnya masyarakat sudah banyak yang tahu akan manfaat buah mengkudu bagi kesehatan. Sayangnya karena rasanya yang pahit dan tidak enak, membuat masyarakat enggan mengonsumsi,” kata Syamsul saat ditemui wartawan di Laboratorim Fakultas Pertanian Unitomo Surabaya, Kamis (26/3/2015).

Padahal, kata Syamsul, suplai mengkudu juga sangat melimpah di lingkungan sekitar. Ini yang membuat dia tergerak untuk meneliti mengkudu dan mengubahnya menjadi makanan yang menyehatkan tapi enak.

Dalam es krim mengukudu buatan Syamsul itu, diteliti mengandung berbagai senyawa yang sangat diperlukan tubuh. Di antaranya adalah senyawa terpenoid, zat anti bakteri, dan anti oksidan. Selain itu juga ada nilai gizi yang baik dengan adanya kandungan protein dan lemak yang diperlukan tubuh secara seimbang.

Dengan menggunakan metode penelitian eksperimen laboratorim menggunakan pola penelitian Rancang Acak Lengkap (RAL) Syamsul meramu buah mengkudu menjadi pasta. Awalnya ia cukup memotong mengkudu yang sudah siap dipetik menjadi beberapa bagian. Lalu diblender hingga halus.

“Mengkudu yang sudah halus kemudian diperas dan dipisahkan dari kandungan airnya. Lalu pasta diaduk bersama susu full cream dan berbagai bahan untuk membuat es krim lainnya. Lalu didinginkan, kurang lebih satu jam es krim sudah siap dihidangkan,” bebernya.

Dengan analisia menggunakan program statistic product and service solution (SPSS) Syamsul berhasil menciptakan es krim mengkudu dengan kandungan protein 7,6 persen, lemak 5,3 persen. Dengan tingkat aroma 4,9 persen disukai masyarakat, dan 5,5 persen mempunyai warna yang menarik.

“Untuk warnanya saya memakai pewarna dari bahan-bahan organik seperti wortel, dan berbagai buah-buahan lainnya. Hasilnya setelah saya produksi, banyak mahasiswa yang menyukai dan menjadi pelanggan,” akunya.

Sementara itu, Kepala Humas Unitomo Surabaya, Agus mengaku bangga atas hasil kreativitas mahasiswanya tersebut. Untuk itu, pihak kampus berencana untuk mencari investor agar produk Syamsul bisa diproduksi secara massal.

“Dibandingkan dengan es krim lainnya, ini cukup terjangkau, hanya Rp 3 ribu saja,” katanya. (wh)