Mahasiswa UK Petra Bangkitkan Ekonomi Jalan Tunjungan

Mahasiswa UK Petra Bangkitkan Ekonomi Jalan Tunjungan
Calon arsitektur UK Petra menunjukkan maket untuk membangkitkan geliat ekonomi Jalan Tunjungan.

Sejarah Surabaya tak lepas dari Jalan Tunjungan yang menjadi pusat ekonomi era Pra-Kemerdekaan. Namun siapa sangka, saat ini Jalan Tunjungan justru kian sepi.

Inilah yang menjadi kegelisahan bagi puluhan calon arsitektur dari Universitas Kristen (UK) Petra. Digawangi Arsitek Surabaya Benny Poerbantanoe, mereka akhirnya membuat enam konsep untuk membangkitkan geliat ekonomi Jalan Tunjungan.

“Dengan desain ini kami ingin menghidupkan kembali kawasan Tunjungan menjadi ikon kota Surabaya. Konsepnya memberikan ruang terbuka hijau seperti Taman Bungkul dipadupadankan dengan kawasan bisnis dengan konsep ramah lingkungan (city walk),” papar dosen Program Studi Arsitektur UK Petra, Gunawan Tanuwidjaja.

Keenam desain milik mahasiswa yang menempuh tugas akhrinya itu, membeberkan strategi menjadikan Jalan Tunjungan sebagai pusat ekonomi warganya. Di antaranya dapat digunakan sebagai taman, apartemenm galeri, sentra perdagangan modern, kantor sewa, hingga entertainment centre.

Seperti yang digagas kelompok milik Jessica Wijaya Lois. Bersama delapan rekan sejawatnya, ia menamai konsepnya De Djantoeng.

“Ini nantinya akan menjadi kawasan multipurpose di Jalan Tunjungan Surabaya. Nanti konsep kami akan terintegrasi dengan Hotel Majapahit, Plaza Andika, dan Plaza Tunjungan,” beber dia.

Menurut Jessica, De Djantoeng nantinya menjadi jantung aktivitas manusia. Utamanya sebagai konsep untuk pejalan kaki dan meminimalkan kendaraan.

“Desain yang kami gunakan perpaduan desain gaya postmodern tanpa menghilangkan sejarah Jalan Tunjungan. Selain menambah ruang dan fitur baru yang modern nantinya De Djantoeng juga difungsikan sebagai pendukung aktivistas warga Surabaya,” tambahnya.

Selain kelompok Jessica, ada lima kelompok lain yang mendesain Jalan Tunjungan dengan konsep yang berbeda-beda. (wh)