Mahasiswa Ubaya Ciptakan Power Bank dari Asap Knalpot

 

Mahasiswa Ubaya Ciptakan Power Bank dari Asap Knalpot

Power bank yang berguna untuk mengisi handphone atau BlackBerry dan Android bila kehabisan daya, kini tidak perlu lagi menggunakan daya listrik untuk men-charge bila kehabisan baterai. Berkat penemuan dari Chandra Sudono Halim dengan menggunakan perangkat bekas sederhana, power bank kini dapat diisi daya dengan menggunakan knalpot motor atau gas buang mobil.

Mahasiswa Teknik Manufaktur Ubaya ini membuat Electric Emission Mobile Charger (E2MC). Dari sisa gas pembakaran kendaraan bermotor yang selalu dianggap limbah ternyata menyimpan potensi sebagai sumber energi. Tekanan angin yang dihasilkan oleh gas pembuangan dapat menghasilkan energi listrik dengan bantuan komponen yang sesuai.

“Saya mendapatkan ide berawal dari tugas Mata Kuliah Desain Produk I dan II yang mewajibkan penghasilan arus listrik melalui energi terbarukan atau energi alternatif,” kata Chandra mahasiswa asli Tarakan ini kepada wartawan, Rabu (3/9/2014).

Hingga akhirnya, Chandra Sudomo Halim mewakili Teknik Manufaktur Universitas Surabaya meraih medali emas melalui produk bernama Electric Emission Mobile Charger (E2MC).

Dia lalu menjabarkan, komponen power bank ini terdiri dari baling-baling plastik yang diberi kerangka, kemudian terdapat penyangga sehingga dapat dipasangkan pada knalpot sepeda motor. Controller dipasang untuk menjaga tegangan listrik tetap stabil. Baling-baling plastiknya dari baling-baling CPU komputer.

Gas buang sepeda motor selama mengendara akan memutar baling-baling E2MC, kemudian menghasilkan arus listrik yang dapat mengisi baterai pada handphone maupun power bank. Penyimpanan handphone maupun power bank yang tengah di-charge pun telah didesain agar tetap aman, yakni dihubungkan ke dalam jok motor melalui kabel yang sesuai.

Untuk dapat mengisi power bank 3.500 mA, dibutuhkan waku sekitar 3-4 jam. E2MC gampang dilepas dan dipasang sesuai dengan kebutuhan pengendara. Perawatannya pun sederhana, pengendara hanya perlu membersihkan E2MC terutama pada bagian dalam baling-baling setiap 1000 km.

Sunardi Tjandra, dosen pembimbing Chandra, menyampaikan bahwa apa yang dikerjakan para mahasiswa ini terkait upaya membantu penuntasan isu-isu global.

“Kami terus mengembangkan inovasi baru yang berguna bagi masyarakat,” kata Sunardi. (wh)