Mahasiswa Korea Praktik Membuat Jamu di Ubaya

Mahasiswa Korea Praktik Membuat Jamu di Ubaya
Mahasiswa Korea, Kim Eun Hee, (kiri) meracik jamu temulawak ditemani beberapa kawannya, Selasa (21/1/2014).

“Stir it, Kim,” seru mahasiswa Ubaya  sambil mengarahkan tangan gadis bermata sipit yang tampak canggung memegang ulegan berwarna putih. Di sebelahnya, seorang perempuan muda berkulit putih, memotong-motong temulawak. Beberapa kawannya mengamati dengan serius kuliah jamu hari itu.

Mereka adalah mahasiswa Kyung Hee University, Korea yang tengah menjalani Summer Program 2014. Bekerja sama dengan Universitas Surabaya (Ubaya), 30 mahasiswa itu tak hanya ingin berkenalan dengan budaya Indonesia, tapi juga mempelajari pembuatan jamu. Mereka didampingi seorang dosen pembimbing, Dr Kim Se-Young, PhD. Pengobatan tradisional khas Indonesia menjadi topik andalan program pertukaran budaya di Ubaya tersebut.

“Kali ini jamu dipilih karena di Korea, jurusan mahasiswa-mahasiwa itu adalah Fakultas Oriental Medicine,” kata Ketua Summer Program 2014, Adi Tedjakusuma di Gedung International Village, Ubaya Selasa (21/1/2014). Obat tradisional, menurut pihaknya, menjadi pilihan cerdas menggantikan obat modern. Sebab, harganya lebih rendah.

Selama 10 hari, ketiga puluh mahasiswa itu nantinya akan dipandu oleh para pengajar dan mahasiswa Fakultas Farmasi. Mereka diperkenalkan dengan berbagai bahan alam penyusun jamu. Seperti akar, bunga, daun, kulit pohon, serta buah-buahan. Jamu temulawak dan kunyit asem menjadi materi percobaan mahasiswa-mahasiswi Kyung Hee University.

“Selain praktik membuat jamu, mereka akan diajak melakukan kunjungan ke pabrik jamu Natura, Pandaan. Lalu ke Poli Obat Tradisional Indonesia (OTI) RSUD dr Soetomo, Surabaya, Kebun Toga di Trawas, serta berinteraksi langsung dengan penjual jamu gendong,” jelas Adi.

Lee Jeong Hun, salah seorang peserta Summer Program mengungkapkan kekagumannya terhadap jamu. Dengan bahasa Inggris yang sederhana, ia mengatakan obat-obatan di negaranya tak beragam seperti di Indonesia. “Di Korea kami lebih sering mengolah ginseng,” ujarnya.

Usai meracik jamu bersama-sama, mereka diminta mencicipi jamu temulawak buatannya tersebut. Jamu yang melalui proses penyeduhan dan penyaringan itu lantas dimasukkan ke dalam gelas. Sambil meniup sesendok jamu yang masih panas, Kim Eun Hee mengerjap lalu berkomentar. “Rasanya pahit, tapi juga manis,” lontarnya.(wh)