Mahasiswa ITS Rancang Pengolah Limbah Batik untuk UMKM

Mahasiswa ITS Rancang Pengolah Limbah Batik untuk UMKM

foto: humas its surabaya

Dalam proses produksi batik, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) seringkali mengalami keterbatasan dalam mengolah limbahnya. Padahal limbah kimia hasil dari proses pewarnaan batik berbahaya bagi lingkungan. Bertekad membantu para pengrajin batik, mahasiswa Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ciptakan alat pengolah limbah batik untuk UMKM tersebut.

Alat yang resmi diluncurkan prototipenya kepada UMKM San Ros Batik, akhir bulan lalu, merupakan karya kelompok tiga kuliah lapangan berbasis pengabdian masyarakat yang diadakan Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITS. Dengan bimbingan dosen Dr Eng Widiyastuti ST MT dan Dr Suci Madhania ST MT, 27 mahasiswa berkontribusi dalam pembuatan pengolah limbah ini.

Ketua kelompok, Aditya Mardiansyah menjelaskan, dalam proses produksi batik tersebut para pengrajin batik melalui proses pewarnaan menggunakan pewarna tekstil. Penggunaan pewarna tekstil sintetis dan proses lainnya seperti proses penghilangan lilin, perendaman serta pembilasan akan menghasilkan zat-zat sisa seperti ceceran sisa lilin maupun sisa air pewarnaan.

Zat sisa tersebut menghasilkan limbah residu kaya pewarna reaktif dan bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan. Sehingga pengolahan limbah diperlukan sebelum zat tersebut dibuang begitu saja ke lingkungan sekitar. “Ada suatu kasus di mana pohon pepaya yang secara tidak sengaja tersirami air limbah batik menjadi pahit rasa buahnya, padahal sebelumnya rasa buahnya tidak demikian,” paparnya.

Meninjau dampak tersebut, lanjut mahasiswa yang akrab disapa Ardi ini, maka dirancanglah alat pengolah limbah batik yang sekiranya mudah digunakan oleh pengrajin batik UMKM. Rancangan yang dibuat menggunakan metode elektrodegradasi, yaitu perlakuan terhadap polutan yang dapat memecah senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana.

Dalam kasus limbah batik, terang Ardi lagi, alat ini memecah senyawa kompleks dalam limbah menjadi senyawa sederhana yaitu H2O (air) dan CO2 (karbon dioksida) yang sudah aman jika dibuang langsung ke lingkungan. “Kami menggunakan prinsip elektrolisis, di mana perlu elektrolit, elektroda dan sumber listrik,” beber Ardi.

Menurut Ardi, cara menggunakan alat ini juga mudah. Pengguna hanya perlu menyambungkan alat dengan listrik kemudian limbah dapat langsung dituang ke dalam tabung akrilik. Setelahnya elektroda dalam alat akan bekerja mendegradasi limbah. Lamanya pengolahan bervariasi, tergantung banyaknya limbah yang dituang. “Paling cepat 2-3 jam, kalau banyak bisa ditinggal semalaman,” terang pemuda asal Malang ini.

Dijelaskan Ardi lagi bahwa elektroda yang digunakan dalam hal ini adalah elektroda karbon, karena dinilai memiliki kemampuan menghantarkan listrik dan dapat mempertahankan tingkat panas yang sangat tinggi.

Diungkapkan Ardi, limbah yang telah selesai diolah dengan alat rancangan timnya menunjukkan perubahan warna dan menghasilkan endapan. Limbah yang sebelumnya berwarna hijau dengan lapisan lilin di dalamnya berubah warna menjadi keruh, yang menandakan bahwa limbah sudah tidak lagi berbahaya bagi lingkungan.

Alat yang dirancang selama dua bulan empat hari tersebut saat merangkainya ini diklaim memiliki banyak keuntungan dengan menggunakan teknologi elektrolisis, dibandingkan dengan teknologi lainnya. Metode ini dinilai kompatibel terhadap lingkungan, efisien energi, aman, dan biayanya terjangkau, sehingga dinilai pas untuk digunakan para pelaku UMKM.

Pasalnya, perawatan alat ini juga relatif mudah. Pengguna hanya perlu menguras tangki dan membersihkannya dengan peralatan yang mudah dijumpai. Daya listrik yang digunakan juga rendah, hanya 10 watt. “Jadi bisa diibaratkan pengrajin batik seperti memasang satu lampu tambahan saja di rumahnya,” Ardi menambahkan.

Terkait dengan alat yang diinovasikan untuk usahanya ini, Roestianingsih selaku salah satu pengrajin batik UMKM mengaku senang dan terbantu. “Bermanfaat sekali. Dengan adanya alat ini saya bisa membuang limbah saya tanpa takut mengganggu lingkungan sekitar,” ujar pebatik yang telah memulai usahanya sejak 2012 lalu.

Wanita paruh baya yang bermukim di Sutorejo, Surabaya ini berharap bahwa alat ciptaan mahasiswa ITS tersebut dapat dikembangkan ke depannya. Mengingat industri batik yang memang sulit sekali dipisahkan dengan proses yang menghasilkan limbah.

Saat ditanya mengenai rencana ke depannya dalam pengembangan alat, Ardi menyampaikan bahwa dirinya dan tim ingin terus meningkatkan efisiensi alat dan juga menambahkan fitur otomasi alat. “Kami ingin menambahkan fitur, yakni jika tangki sudah penuh maka alat otomatis berjalan,” ungkapnya.

Ia juga berharap bahwa alat ciptaan timnya ini dapat membantu UMKM dalam proses usaha mereka dan dapat memberikan kontribusi untuk menjaga lingkungan. “Karena ini masih prototipe, kami harap ke depannya alat ini dapat disempurnakan lagi,” tutupnya. (wh)