Madura Butuh Kelompok Usaha Alas Kaki

Madura Butuh Kelompok Usaha Alas Kaki

Produk sepatu bakal dijajaki untuk dikembangkan saat industrialisasi Madura.

Madura merupakan salah satu kawasan yang butuh mendapat percepatan proses industrialisasi. Hal itu ditegaskan Kepala Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BIPI) Tanggulangin, Sidoarjo, E. Ratna Utarianingrum.

“Industri sepatu sangat potensial dikembangkan di Madura. Sebab, industri sepatu termasuk industri padat karya dan padat modal,” katanya kepada enciety.co.

Menurut dia, ada dua strategi yang dikembangkan. Yakni, melalui pendekatan top-down atau bottom-up. Untuk pendekatan top-down, harus ditemukan kluster industri unggulan di Madura. Dari hasil pemetaan sektor industri lokal akan ditemukan beberapa potensi Madura. Kedua, dengan menemukan apa potensi inti Madura. “Sehingga tinggal melakukan pemberdayaan produk unggulan daerah,” cetus Ratna.

Dari sana, sambung dia, Madura dipandangnya potensial di bidang industri manufaktur padat tenaga kerja, seperti tekstil, produk tekstil, dan alas kaki. Untuk itu, diperlukan pembinaan sekaligus pengolahan secara kolektif agar SDM Madura tak banyak yang lari ke luar pulau, bahkan luar negeri.

Ratna menilai, Madura punya beberapa kelebihan dibanding wilayah lain. Madura jauh dari permasalahan ketenagakerjaan yang lazim menimpa kabupaten atau kota di Ring 1, seperti Surabaya, Pasuruan, Sidoarjo, dan Mojokerto. “Investor dipastikan akan cenderung menjauh dari wilayah tersebut untuk mencari nilai ekonomis produksi,” katanya.

Perempuan yang mengawal pendirian BIPI di Tanggulangin itu, lantas mengusulkan pendirian Kelompok Usaha Bersama (KUB) Alas Kaki di Pulau Garam tersebut. Keunikan KUB Jahit Upper sepatu, lanjut Ratna, terletak pada pemberian bantuan secara kolektif.

“Pengelolaan dilaksanakan secara kolektif, menciptakan kesepakatan kolektif pembagian keuntungan kelompok. Ini lebih mendekati karakter masyarakat Madura,” urainya.

Di samping itu, pendirian KUB akan Penumbuhan wirausaha baru memberdayakan ekonomi lokal, menumbuhkan peluang sektor industri baru, serta memberdayakan remaja usia produktif.

Indonesia tercatat sebagai 5 besar produsen alas kaki dengan nilai ekspor mencapai US$ 3,5 miliar di tahun 2012. Meskipun Indonesia hanya mengonsumsi 3 persen seluruh alas kaki di dunia atau sekitar 526 juta pasang, negara lain di Asia bisa menjadi sasaran produk dalam negeri.

“Secara global Asia menjadi pasar terbesar alas kaki dunia, yakni 47 persen. Sedangkan Eropa di urutan berikutnya, 21 persen,” urai Ratna.

Pada akhirnya, Madura masih memerlukan intervensi kebijakan dari pemerintah daerah. “Bantuan berupa mesin dan alat, pendampingan produksi dan pemasaran, amat dibutuhkan. Setidaknya 6.000 tenaga kerja diperlukan untuk industri sepatu nasional,” tandasnya.(wh)