Literasi Digital Dorong Budaya Rakus Membaca

Literasi Digital Dorong Budaya Rakus Membaca

Agus Wahyudi menjadi narasumber Kajian Ilmu Pengetahuan Kelas Literasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Surabaya di SD Muhammadiyah 4, , Surabaya, Sabtu (31/3/2018). foto:arya wiraraja/enciety.co

Menulis adalah ketrampilan yang dapat dipelajari. Untuk dapat menulis, seseorang wajib menerapkan budaya rakus membaca. Karena dengan makin banyak membaca, akan semakin banyak referensi yang dibutuhkan untuk menulis.

Hal itu disampaikan Agus Wahyudi, pemimpin redaksi enciety.co , dalam acara Kajian Ilmu Pengetahuan Kelas Literasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Surabaya yang diadakan di SD Muhammadiyah 4, Jalan Pucang Anom 83, Surabaya, Sabtu (31/3/2018).

Yudi lalu menjelaskan, kegiatan menulis sejatinya bukan monopoli jurnalis. Karena pada prinsipnya, siapapun bisa melakukan tugas-tugas jurnalistik dengan memenuhi standar baku yang telah ditetapkan.

“Di zaman ini, kita mengenal citizen journalism atau jurnalis warga. Dalam citizen journalism, semua warga masyarakat dapat menulis dan memberitakan sesuatu dengan mememnuhi elemen jurnalisme 5W+1H. Lantas, untuk medianya, kita dapat menggunakan media sosial, seperti facebook, twitter, intagram, dan lainnya,” kupas Yudi.

Menurut Yudi, pesatnya perkembangan dunia digital membuat perilaku masyarakat tidak akan lepas dari internet dan media sosial. Setiap hari, kita tidak lepas dari akses internet melalui gadget. Sedikitnya 150 juta orang di Indonesia mengakses internet.

“Secara tidak sadar, selama sehari kita dapat beberapa kali mengakses internet. Entah itu kita membuka facebook atau sekadar melihat foto dan update status kawan-kawan kita dengan membuka intagram atau whatsapp,” ujar dia.

Pola perilaku tersebut, kata Yudi, wajib dipetik sisi positifnya. Saat ini, di dunia digital kita bukan hanya dapat menemukan informasi dan ilmu pengetahuan baru. Dengan mengakses dunia digital, seseorang juga dapat menggunakannya untuk media promosi bisnis dan berjualan.

Contohnya, sebut mantan pemimpin redaksi Radar Surabaya itu, apa yang dilakukan pelaku usaha Pahlawan Ekonomi Surabaya. “Ada yang bernama Diah Arfianti. Dia sukses memasarkan kue kering via dunia digital. Omzetnya mencapai miliaran rupiah,” terang dia.

Nah, imbuh Yudi yang juga Humas Pahlawan Ekonomi Surabaya itu, hal-hal semacam ini patut kita apresiasi dan adaptasi. Karena dengan mengakses dunia digital, kita dapat mengakses konten-konten yang memperkaya literasi dan pengetahuan.

“Karena dunia digital adalah keniscayaan. Dunia yang luas dan banyak hal positif yang bisa kita dapat dari sana,” pungkasnya. (wh)