Listrik di Bali Bergantung Pasokan Jawa

 

Listrik di Bali Bergantung Pasokan Jawa

PT PLN (Persero) mengakui jika selama ini sangat mengandalkan transmisi di Jawa untuk memenuhi kebutuhan listrik di seluruh wilayah Bali. Cara ini ditempuh guna menghemat biaya operasional pembangkit listrik.

Direktur Operasi Jawa-Bali-Sumatera PLN, Ngurah Adyana mengungkapkan, konsumsi listrik di Bali mencapai 735 megawatt (MW). Angka ini masih terbilang kecil meski Pulau Dewata sudah menjadi tujuan utama turis mancanegara berlibur.  “Beban puncaknya 735 MW, sedangkan penambahan listrik Jawa Bali yang diperlukan sekitar 1.300-1.500 Mw supaya mampu memenuhi kebutuhan tersebut,” paparnya.

 Adyana mengaku, sepertiga kebutuhan listrik di Bali atau sekitar 234,5 MW berasal dari transmisi di Jawa yang disalurkan melalui kabel bawah laut atau jaringan interkoneksi. Sehingga jika transmisi Jawa mengalami gangguan, maka Bali akan merasakan dampaknya seperti pemadaman listrik.  “Bali selama ini memang hidup dari transmisi di Jawa. Karena lebih hemat jika dialirkan lewat kabel bawah laut dibandingkan dari pembangkit listrik,” tuturnya.

Alasannya, kata Adyana, pembangkit listrik di Bali yang ada saat ini masih menyedot bahan bakar minyak (BBM). Sedangkan pembangkit listrik di Jawa sudah mengonsumsi batu bara, sehingga harganya jauh lebih murah.  “Tapi ada risikonya, kalau ada gangguan di transmisi Jawa, kabel listrik bawah laut pun berhenti mengaliri listrik ke Bali,” jelas dia.

Meski begitu, dia bilang, separuh dari kebutuhan listrik di Bali akan segera dipasok dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng, Bali.  “Pembangunan PLTU Celukan sudah jalan, dan bisa beroperasi pada tahun depan. Mempunyai kapasitas 390 MW, pembangkit listrik ini akan memasok daya listrik 50 persen dari total kebutuhan listrik di Bali,” tandas Adyana. (lp6/ram)