Lisa Face Off Tinggalkan RSUD dr Soetomo

Lisa Face Off Tinggalkan RSUD dr Soetomo
Lisa (kiri) sesaat sebelum pulang meninggalkan RSUD dr Soetomo.

Siti Nurjazila alias Lisa (30), warga Turen Malang yang menjalani operasi face-off pertama di Indonesia, akhirnya diperbolehkan pulang. Lisa adalah korban kekerasan penyiraman air keras di wajah oleh suaminya sendiri pada 1996 lalu.

Pelepasan Lisa sendiri yang dipusatkan di RSUD dr Soetomo, dilakukan oleh Direktur RSUD dr Soetomo, dr Dodo Anondo. Dalam sambutannya Dodo mengatakan kebanggaannya atas prestasi yang diraih oleh tim bedah dr Soetomo.

“Dia adalah pasien pertama yang menjalani operasi face off pertama kalinya di Indonesia. Dan kita mendapatkan kehormatan untuk menjalankan operasi terhadap dirinya,” katanya sambil tersenyum, Rabu (5/2/2014).

Lisa dinilai mampu hidup mandiri tanpa harus mendapat bantuan dari tim medis. Namun demikian, dirinya diwajibkan untuk menjalani kontrol dua kali dalam seminggu.

Ketua Tim Bedah Plastik Face Off Prof dr Sjaifuddin Noer, SpBP-K mengatakan bahwa secara psikologis mental pasien, dia yang telah dirawat selama tujuh tahun sudah kuat untuk berbaur dengan masyarakat.

“Tingkat kesembuhan mencapai 75 persen dan lukanya0 sudah membaik meski rekontruski wajah memang tidak bisa 100 persen,” tegas Sjaifuddin.

Sejak Maret 2006 Lisa sendiri menghuni Graha Rawat Inap Utama Rumah Sakit Umum Daerah dr Soetomo untuk menjalani serangkaian operasi ganti wajah hingga 17 kali. Dan operasi terakhir yang dilakukan pada tanggal 27 Februari 2013. Saat itu, tim medis memperbaiki kelopak mata kanan bagian atas, bibir dan sudut pipi. “Akan ada operasi kecil kembali untuk beberapa waktu ke depan buatnya,” sambungnya.

Dalam acara pelepasan itu, pihak RSUD Dr Soetomo memberikan tali asih dan buku berjudul “Hidup Lagi” sebagai motivasi Lisa ketika terjun ke masyarakat.

Dia juga berkesempatan untuk berfoto bersama dengan tim dokter yang menangani operasinya. “Kami tidak melepas begitu saja tapi tim dokter akan terus melakukan pengawasan termasuk perkembangan psikologinya,” tukas dia.

Keluar dari rumah sakit, Lisa mendapat uang saku untuk biaya hidup selama setahun. Dia juga bisa mendapat tambahan uang dari bisnis aksesori manik-manik yang kini ditekuninya. Namun tetap diberi kesempatan untuk bekerja bersama pegawai rumah sakit yang sudah dianggapnya sebagai keluarga.

Begitu juga yang dikatakan oleh Psikiater dr. Nalini Muhdi, Sp.K.J.(K) tentang Lisa. Nalini mengatakan ada kemungkinan dia akan bekerja di bagian rehabilitasi mental. “Lisa akan mendampingi para pasien untuk memberikan keterampilan dan juga terapi sekaligus motivasi,” kata Nalini.

Lisa kepada wartawan mengaku tertarik bekerja di rumah sakit. “Ada keinginan saya mengajari keterampilan membuat manik bagi pasien-pasien disini,” katanya.(wh)