LIPI Kembangkan Inovasi Plastik Berbahan Nabati

kantong-plastik130622b

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan teknologi baru untuk mengurangi sampah plastik. Inovasi ini berupa plastik dari bahan nabati serta mobile incenerator, alat pengolahan sampah plastik yang efektif dan efisien.

Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Dr. Eng. Agus Haryono mengatakan, plastik konvensional terbuat dari minyak bumi melalui proses polimerisasi. Lamanya penguraian plastik disebabkan oleh ikatan kimia dari proses polimerisasi tersebut dan penambahan bahan kimia lain. Akibatnya, sampah plastik semakin menumpuk dan partikel yang tersisa dalam penguraian plastik dapat membahayakan kesehatan.

Untuk mengatasi permasalahan sampah plastik ini, LIPI mengembangkan bioplastik dengan menggunakan asam laktat. Asam laktat diperoleh dari bahan alami, yakni tandan sawit. “Tandan sawit kita fermentasi menjadi asam laktat, kemudian asam laktatnya kita reaksikan menjadi polimer,” ujar Agus di Jakarta.

Asam laktat, jelas Agus, merupakan bahan yang mudah terurai karena merupakan ikatan poliester yang mudah sekali terpecah oleh mikroba. Ketika terpolimerisasi, asam laktat akan menjadi poliasam laktat yang bisa langsung terurai 100 persen.

Selain itu, tambahnya, LIPI juga mengembangkan plastik campuran bahan konvensional dan bahan alami. “Kita mengembangkan campuran yang isinya plastik konvensional baik itu PP maupun PE yang kita tambahkan bahan aditif atau filler dari bahan alami,” tambahnya.

Plastik inovasi LIPI ini, kata Agus, masih berada pada tahap laboratorium dan mungkin memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa masuk ke ranah industri. Apalagi mengingat harga bahan bakunya yang cukup mahal dibandingkan plastik konvensional.

Untuk mobile incenerator, Agus menjelaskan, inovasi ini mampu menghilangkan zat berbahaya yang ditimbulkan saat pengolahan limbah dan membantu mengatasi pengolahan limbah yang ada di beberapa tempat menjadi lebih efisien. Apalagi mengingat biaya transportasi untuk pengangkutan sampah cukup besar.

“Jadi incenerator ini di-setting sedemikian rupa sehingga pembakarannya sempurna. Kalo pembakaran tidak sempurna kan nanti pasti akan ada gas berbahaya. Jadi suhunya harus tinggi, diberi tekanan, seperti itu. Dia juga mobile sehingga mudah dipindahkan kemana-mana,” tandasnya.

Sejauh ini, menurutnya, limbah plastik bersifat ringan tapi ber-volume tinggi sehingga tidak ekonomis untuk diolah secara terpusat. “Pembakaran sampah di tempat terbuka juga menyebabkan timbulnya gas dioksin dan furan yang berbahaya karena dapat menyebabkan kanker,” tambah Agus. (bst)