Lima Tahun Terakhir, Industri Sepatu dan Tekstil Nasional Babak Belur

Lima Tahun Terakhir, Industri Sepatu dan Tekstil Nasional Babak Belur
Sherlina Kawilarang, Ketua API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) Jawa Timur. Winyoto, Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Apresindo), Kresnayana Yahya (Chairperson Business Consult), dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (22/1/2016). Foto: arya wiraraja/enciety.co

Kurun lima tahun terakhir, dunia industri alas kaki atau sepatu nasional terbilang babak belur. Hal ini disebabkan upah minimum yang tidak menentu.

“Kita tidak dapat menentukan harga produk yang kita hasilkan. Ini yang membuat kita kewalahan. Sebagai perbandingan di Vietnam, pemerintahnya telah menjamin kepada para investor dan pengusaha selama kurun waktu lima tahun, kenaikan upah tidak lebih dari 40 persen. Jadi, saban tahun rata-rata kenaikan upah buruh dapat dihitung sebesar 8 persen,” beber Winyoto, Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Apresindo), dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (22/1/2016).

Selain itu, ungkap dia, jika kebijakan pemerintah pusat dengan kebijakan pemerintah di daerah terkadang tidak sinergis. Kepastian hukum yang tidak jelas tersebut itulah yang membuat pengusaha dan investor ragu dalam memulai bisnisnya.

“Contohnya, mobilisasi pengiriman barang. Beberapa hari lalu, armada pengiriman kami pernah tertangkap razia, karena tidak adanya label berbahasa Indonesia. Padahal, menurut pemerintah pusat, kebijakan tersebut berlaku mulai 1 Oktober 2016,” jelas dia.

Ia mengimbuhkan, kepastian hukum dan kebijakan yang tidak jelas inilah yang membuat Vietnam menjadi maju di bidang industri sepatu dan tekstil. Selain itu, pada tahun 2014, atmosfer investasi industri sepatu dan tekstil telah bergeser ke daerah Eropa Timur.

“Di Eropa Timur, para pelaku usaha sepatu dan tekstil membuka usaha dengan upah yang terbilang minim, sekitar 100 sampai 150 euro. Namun, mereka memiliki iklim ekonomi yang tebilang stabil,” terang dia.

Winyoto mengatakan, untuk bertahan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, para pengusaha sepatu melakukan penangguhan dana. “Padahal, dalam dunia industri sepatu, inovasi dalam model hasil produksi sangat diperlukan. Namun, kami masih berkutat pada modal yang dibutuhkan dalam menutup ongkos produksi,” tuturnya.

Hal senada dilontarkan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Timur, Sherlina Kawilarang. Ia menuturkan jika industri tekstil nasional memiliki kendala dalam bidang sumberdaya manusia (SDM).

“Selama kurun waktu 5 tahun terakhir, kita tidak memiliki SDM yang mumpuni dibidang tekstil. Di Jawa Timur, insinyur dalam bidang teknik kita dapat temukan, namun sangat disayangkan jika kita mencari Insinyur dalam bidang tekstil kita sangat kesulitan,” ulas dia.

Ia mengimbuhkan, ketika pihaknya ingin mencari para Insinyur dalam bidang tekstil, maka harus mencari para lulusan perguruan tekstil yang ada di Jogjakarta dan Bandung.

”Ketika kita memindahkan seseorang ahli, contohnya dari Bandung ke Surabaya, sangat sulit sekali. Karena terbentur oleh penyesuaian budaya dan lain sebagainya, sehinga para tenaga kerja tersebut hanya mampu bertahan tidak lama, kurang lebih selama 3 hingga 5 tahun saja. Hal tersebut berbeda dengan tenaga-tenaga asing yang telah teruji kompetensi dan ketahanannya dalam merantau,” paparnya.

Namun, kenada lain muncul ketika ia ingin memperkerjakan tenaga asing. ”Berbagai regulasi muncul dan membatasi kita untuk memperkerjakan tenaga asing. Di antaranya, adanya working permit yang memakan waktu selama 3 bulan. Bayangkan, jika kita ingin bertarung dalam kontestasi ekonomi global jika kehilangan waktu selama 3 bulan dalam kurun waktu 12 bulan dalam 1 tahun,” keluhnya.

Dia mengimbuhkan, jika keberadaan tenaga kerja asing (TKA) dibutuhkan sebagai pembanding karena capaian yang ia tuju adalah kualitas eksport. “Meskipun tanpa adanya TKA, kami tidak yakin dapat berkompetisi di dalam negeri dengan barang-barang impor,” tuturnya.

Keterbatasan SDM dalam bidang industri tekstil juga diamini Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya. “Kita kesulitan akan keberadaan Insinyur dalam bidang tekstil. Hal ini dikarenakan kita tidak memiliki sekolah kejuruan atau perguruan tinggi yang ada di Jawa Timur,” ujar pakar Statistika ITS itu.

Ia mengimbuhkan, jika saat ini Indonesia belum banyak memiliki Insinyur yang dapat mengoperasionalkan mesin-mesin produksi dalam industri tekstil. “Inilah salah satu pentingnya keberadaan TKA, karena TKA dapat membagi ilmunya kepada para tenaga kerja kita yang ada di industri tekstil dalam negeri,” tandasnya. (wh)

Informasi kebutuhan layanan data KLIK DISINI.