Lima Kiat Sukses Atur Keuangan selama Ramadan

Lima Kiat Sukses Atur Keuangan selama Ramadan

Ilustrasi foto: sbm.itb.ac.id

Saya punya sahabat karib. Namanya, Sutie Rahyono. Dia seorang konsultan keuangan andal. Punya reputasi jempolan. Dikenal sebagai praktisi dan trainer kewirausahaan.

Sutie juga punya puluhan usaha. Dari usahanya itu, dia bisa menolong banyak pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Tak hanya itu saja. Sutie dipercaya banyak artis dan selebritis Indonesia sebagai konsultan bisnisnya. Dan, yang tak banyak orang tahu, dia melatih kewirausahaan para korban terorisme di bawah binaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia.

Saya mengenal Sutie karena dia dipercaya sebagai narasumber dalam Financial Management Workshop di Pahlawan Ekonomi, program pemberdayaan ekonomi keluarga yang digagas Tri Rismaharini (sekarang Menteri Sosial RI). Peserta pelatihannya para pelaku UMKM di Surabaya.

Sutie, mewakili Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna. Tiap pekan dia mengajar. Durasinya, sekira dua jam. Materi yang disampaikan sangat penting dan menarik. Tak salah bila banyak pelaku usaha yang merasa sayang kalau tidak hadir di pelatihannya tersebut.

Dari Sutie, saya mengenal cara mengelola keuangan dengan sebutan pola lima kantong. Pertama, kantong pemasukan. Saya dan istri sama-sama bekerja. Saya bekerja di swasta, istri berstatus sebagai Aparat Sipil Negara (ASN). Ada dua pendapatan yang bisa saya kumpulkan setiap bulannya. Jumlahnya gak berubah, jika tidak ada kenaikan gaji maupun tunjangan.

Saya dan istri juga punya usaha kerajinan tangan berupa aksesoris. Usaha ini mulai saya jalankan sejak 2010. Kala itu, saya menyisihkan sebagian uang dari gaji saya dan istri untuk modal usaha.

Kami pernah menyewa toko di Pasar Kapas Krampung. Usaha yang kami jalani mengalami pasang surut. Tahun 2013, kami tidak memperpanjang sewa toko. Ini menyusul makin menyusutnya jumlah pembeli. Tidak realible lagi. Saya mengandalkan penjualan via online.

Kedua, kantong modal dagang. Saya berusaha tidak mengurangi modal dagang. Bahkan sebaliknya, harus bisa menambahnya. Jangan sampai mengurangi modal dagang. Karena untuk dapat membesarkan usaha harus dapat menambah modal produksi.

Modal dari barang dagangan yang terjual secepatnya saya sisihkan. Saya selalu memastikan agar usaha dapat terjamin adanya modal usaha yang akan digunakan selanjutnya. Setelah mendapatkan pemasukan, saya membaginya menjadi tiga. Yakni, 1/3 pertama disisihkan untuk modal dagang, 1/3 kedua disisihkan untuk pengeluaran kewajiban rutin, dan 1/3 ketiga disisihkan untuk ditabung.

Dalam urusan modal dagang, saya berpandangan lebih baik menyimpan barang dagangan. Sebab, dengan menyimpan barang kita bisa mendapatkan uang. Namun, jika kita menyimpan uang belum tentu kita dapat meningkatkan jumlah uang yang kita simpan.

Ketiga, kantong kewajiban rutin. Ada beberapa kebutuhan rumah tangga yang setiap bulannya harus saya selesaikan. Membayar listrik, membayar air, angsuran rumah, angsuran piutang bank, angsuran kendaran, dan bayar wi-fi.

Selain itu, kami harus punya stok bahan-bahan untuk produksi, biaya transportasi, dan lainnya. Kami berupaya tidak memperbesar jumlah biaya kewajiban rutin. Semisal, menambah pinjaman. Saya bersama istri malah berkeinginan semua modal usaha dari uang sendiri, bukan dari pinjaman.

Keempat, kantong dana penyusutan. Sebagai pelaku usaha kami juga memikirkan penyusutan nilai aset. Saya harus mampu disiplin menyisihkan dana cadangan. Yakni, dana kelanggengan yang harus saya siapkan untuk penyusutan barang-barang atau alat produksi yang digunakan. Alat produksi yang saya pakai jelas bakal mengalami penyusutan.

Berbagai cara yang dapat saya lakukan menyiapkan dana cadangan kelanggengan usaha. Untuk itu, saya harus mampu menentukan harga jual yang lebih tinggi. Untuk dapat menghasilkan untung lebih harus cermat menghitung total biaya penjualan dan total belanja bahan baku.

Kelima, kantong pendapatan usaha. Dalam pendapatan usaha, ada pelajaran yang juga saya dapatkan dari Sutie. Beberapa poin penting yang saya catat adalah, hasil penjualan yang terdiri dari produk utama dan barang bekas produksi.

Selain itu, menghitung jumlah biaya yang dikeluarkan untuk penyewaan alat produksi. Dari hasil bonus dan hadiah yang dikeluarkan sebagai bagian dari pemasaran juga harus dihitung.

Untuk mencukupi pengeluaran produksi yang makin besar, saya dianjurkan meningkatkan pendapatan. Jika mendapat profit, tidak semua disisihkan, tapi juga untuk dana cadangan kelanggengan usaha.

Awal melakukannya memang sulit. Dibutuhkan kedisiplinan untuk mempraktikkan pengelolaan uang usaha. Aktivitas ini butuh tanggung jawab yang terbentuk dari kebiasaan.

Tidak Konsumtif

Modal secuil pengetahuan itu juga saya praktikkan di bulan Ramadan. Sebisa mungkin saya tidak menggunakan uang dari modal dagang. Karena modal dagang tak boleh menurun, tapi justru harus naik.

Saya mengatur keuangan dari pemasukan bulanan saja. Beberapa hal yang saya lakukan. Pertama, setiap Ramadan kami rutin menjadi bagian dari warga yang menyumbang takjil dan makanan untuk berbuka. Yang rutin di masjid dan di musala dekat rumah.

Sebelum puasa, saya sudah menerima list dari takmir. Biasanya, saya kebagian dua kali memberi takjil dan makanan. Sebelum pandemi, biasanya ditentukan minimal jumlah takjil yang disumbangkan. Namun, ketika sejak pandemi, panitia sama sekali tak memberi ketentuan. Seikhlasnya saja. Ini biasanya masih ditambah ada kegiatan Nuzulul Quran, dan I’tikah di masjid.

Kedua, puasa akan meningkatkan belanja bulanan. Seringnya juga order makanan di aplikasi layanan pesan antarmakanan. Mesti tidak setiap hari, kami kerap kali memanfaatkan diskon di aplikasi tersebut.

Ketiga, saya mengajarkan kepada keluarga untuk menggunakan uang secara bijak. Tidak konsumtif. Nggak usah berlomba-lomba beli barang yang hanya sebagai ajang pamer saja. Beli gadget baru, apalagi barang-barang dari luar negeri.

Saya merujuk nasihat Kresnayana Yahya (pakar statistika yang kini sudah almarhum). Kata dia, penggunaan uang untuk konsumsi tak lebih 25 persen dari gaji atau penghasilan. Sebesar 5 persen dipakai untuk perencanaan pensiun atau menghadapi masa tua. Untuk pendidikan anak-anak sebesar 7 persen, dan kesehatan 4 persen. (*)