Lima Kiat Menata Sekolah Bermutu

Lima Kiat Menata Sekolah Bermutu

Keempat, tata kurikulum sekolah. Kurikulum itu ibarat beras. Mau kita jadikan menu apapun bisa. Bergantung tukang masaknya. Semakin pandai memasak, beras itu akan mrnjadi banyak menu favorit. Sehingga mendatangkan selera. Begitu juga kurikulum. Semakin kreatif sekolah, maka semakin banyak peminatnya.

Kelima, tata kegiatan kesiswaannya. Ingat, siswa merupakan produk dari sekolah. Dalam mengelola siswa, tolong diperhatikan input, output dan outcome. Kebanyakan sekolah hanya memperhatikan output-nya saja. Utamanya hal-hal yang bersifat akademik. Padahal, ada hal terpenting yang harus dipikirkan, yaitu hal-hal yang bersifat attitude atau akhlakul karimah.

Saya tidak alergi terhadap hal-hal yang bersifat akademik. Tetapi jangan sampai sekolah itu lalai terhadap masalah akhlak yang saat ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak sebagai nutrisi pokok bagi pertumbuhan anak-anak di tengah-tengah krisis akhlak seperti sekarang.

Memperhatikan input juga penting. Yaitu dengan melakukan seleksi saat masuk sekolah. Manfaat dari seleksi sangat banyak, selain meningkatkan kepercayaan terhadap sekolah, juga dapat digunakan sebagai alat untuk membuat komitmen kepada siswa dan orang tua.

Banyak yang berargumentasi, cari murid saja sulit, kok malah diadakan seleksi. Pengalaman saya tidak demikian. Justru dengan seleksi orang semakin yakin bahwa sekolah ini serius dan bersungguh-sungguh dalam mengelola pendidikan.

Manfaat lain adanya selesai adalah memancing masyarakat semakin penasaran terhadap sekolah kita. Apalagi adanya waktu seleksi, pengumuman, inden, pengarahan, bahkan, bila perlu ada yang tidak lulus supaya yang diterima semakin yakin dan yang tidak lulus semakin penasaran.

Pengalaman saya, pernah membuat spanduk ucapan telah ditutup pendaftaran masuk di sekolah. Justru wali murid semakin penasaran dan bersemangat untuk melakukan inden untuk anaknya yang masih TK.

Cara ini juga pernah saya lakukan untuk perguruan tinggi. Membuat jadwal pendaftaran, jadwal seleksi, materi seleksi yang variatif. Justru menarik minat calon mahasiswa. Dan hasilnya luar biasa. Kampus yang biasanya sulit cari mahasiswa, akhirnya kebanjiran mahasiswa.

Teorinya: “Cara kita berbuat sesuatu kepada orang lain akan menjadi cara orang lain berbuat sesuatu kepada kita”.

Ada cara lain untuk mendapatkan respons yang positif dari input. Yaitu, memberikan laporan kepada sekolah asal anak, tentang prestasi yang telah diperoleh oleh anak didiknya yang sekarang berada di sekolah kita. Hal ini juga akan menjadi kesan positif bagi orang tua dan sekolah asal.

Perhatikan juga outcome ca. Yaitu dampak dari sistem yang dibangun oleh sekolah. Dengan cara membuat kuisioner untuk memberi respons terhadap situasi sekolah. Jangam takut dikritik. Justru kritik sangat kita butuhkan untuk memperbaiki sekolah. (*)

*) Praktisi pendidikan, tinggal di Surabaya