Lewat Tas Lukis, Ibu RT Ini Raup Rp 25 Juta Sebulan

Lewat Tas Lukis, Ibu RT Ini Raup Rp 25 Juta Sebulan
Sri Sulatiningsih tetap semangat menjadi pelaku UKM meski usianya tidak muda lagi. foto: arya wiraraja/enciety.co

Memulai usaha dan sukses di usia yang tidak muda lagi. Itulah yang dirasakan Sri Sulatiningsih. Ibu lima  orang anak ini memulai usaha menjadi pelaku usaha kecil menengah (UKM) pada usia 58 tahun.

“Usia saya waktu 63 tahun. Lima tahun lalu, saya bergabung bersama Pahlawan Ekonomi. Saat itu, saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa, namun hati saya tergugah ketika mengikuti pelatihan-pelatihan Pahlawan Ekonomi di Kaza City tiap minggu,” ungkapnya ketika ditemui enciety.co di rumah yang sekaligus menjadi gerainya di Jalan Kedungsari 21c, Surabaya.

Saat memulai usaha dengan mendirikan UKM Sekar Melati Nena Namo, Sril memproduksi kerajinan berupa tas lukis. Awalnya, dia mengaku hanya bermodal semangat pantang menyerah.

“Memang ada modal dari tabungan, jumlahnya sekitar Rp 1 juta. Uang tersebut saya belikan etalase yang saat ini ada di ruang tamu sekaligus jadi ruang pamer. Selebihnya saya memulai dengan menggunakan kain perca, sisa hasil jaitan dari ibu-ibu di sekitar rumah. Kain tersebut saya kumpulkan lalu saya jahit berbentuk tas, setelah itu baru saya lukis,” beber dia.

Sri tidak berpuas diri. Dia kemudian membuat tas lukis dari bahan kain kanvas. Tiap produk yang dihasilkan merupakan murni buah karya tangan atau hand made.

Untuk setiap produk yang dia hasilkan, Sri membandrol dengan harga yang tak kelewat mahal. “Harganya antara Rp 40 ribu hingga Rp 400 ribu, sesuai detail produksi dan tingkat kesulitan mode dan karya lukis,” jelasnya.

produk-tas-lukis-pe-sby produk-tas-lukis-pe-surabay

Selain tas, kini usahanya telah berkembang dengan memproduksi barang-barang dari kain dan dapat dilukis. Keunikan dari produknya adalah terletak pada lukisan yang dibuat.

Dia menyadari, untuk bertahan di dunia industri kreatif kita harus menjadi kreatif. Untuk itu, Sri telah memproduksi sarung bantal, dompet, badcover, selimut lukis. ”Kami produksi dengan berbagai ukuran sesuai dengan pesanan,” cetus dia.

Untuk memproduksi hasil tas dan aneka barang lukisnya, Sri dibantu tujuh tim, masing-masing tim beranggotakan 2-3 orang. “Untuk skala produksi, saat ini kami dapat membuat produk tas lukis sekitar 30 hingga 40 dalam per hari,” terangnya.

Terkait pemasaran, Sri menitipkan barangnya di beberapa mal ternama di Kota Surabaya. Di antaranya di Royal Plaza dan ITC. Selebihnya di beberapa kantor SKPD Pemkot Surabaya.

“Kami juga pasarkan lewat media online dan media sosial. Namun, kebanyakan tas ekslusif yang kami batasi produksinya antara 1 hingga 3 buah saja. Ini kami lakukan agar barang produksi yang kami keluarkan dapat naik kelas dan para pelanggan juga tidak khawatir jika tas yang mereka beli terkesan pasaran,” ulasnya.

Mengenai omzet, Sri menjelaskan dalam sebulan mampu mengumpulkan Rp 25 juta. Pemasukan kami kebanyakan datang dari pesanan, seperti buah tangan acara pernikahan dan lain sebagainya.

Sri berharap tas lukis buatannya dapat menguasai pasar Nusantara. “Memang ada harapan tas lukis karya kami dapat diekspor dalam jumlah banyak. Tidak seperti sekarang, permintaan ekspor datang dari media online dan media sosial,” kata dia..

Sri juga memikirkan bagaimana barang produksinya dapat bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang diberlaku pada tahun 2016 mendatang. (wh)