Lewat Sesindo, ITS Ajak Bangun Desa dengan Teknologi

Lewat Sesindo, ITS Ajak Bangun Desa dengan Teknologi

foto:humas its

Departemen Sistem Informasi Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar Seminar Nasional Sistem Informasi Indonesia (Sesindo) ke-11. Mengusung agenda Seminar Nasional Arah Pengembangan Industri Pedesaan di Indonesia hingga 2024 Berbasis Teknologi, kegiatan tahunan yang bekerja sama dengan Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) ini, digelar di Hotel Majapahit Surabaya, Kamis (19/9/2019).

Dekan Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) Dr Agus Zainal Arifin SKom MKom menjelaskan, seminar ini merupakan wadah bertukar pikiran bagi praktisi dan akademisi, utamanya dalam bidang sistem informasi. Ia menyebutkan, tahun ini seminar fokus pada permasalahan pengembangan desa dengan teknologi.

“Harapannya, supaya ITS khususnya FTIK dan Departemen Sistem Informasi tidak hanya bereputasi internasional, tetapi juga dapat memberikan kontribusi terhadap problematika nasional,” tutur alumnus Hiroshima University, Jepang ini.

Menurut Agus, sapaan akrabnya, Indonesia memiliki lebih dari 7.500 desa dengan beragam kearifan lokal. Ia memandang berbagai kearifan lokal ini merupakan kekuatan yang dapat menguntungkan ekonomi masyarakat. “Di sinilah peran teknologi untuk membantu negara mengkoordinir kearifan lokal tersebut,” ujarnya.

Hal ini, lanjut dosen Informatika ini, tentunya sejalan dengan karya-karya mahasiswa ITS selama ini. Agus mengemukakan, mahasiswa ITS telah banyak menelurkan start-up yang bertujuan untuk memecahkan persoalan di desanya masing-masing. Sebut saja dalam bidang logistik, agrikultur, bahkan masalah kemanusiaan. “Ini juga merupakan salah satu tujuan kami mengadakan acara ini, agar keilmuan yang dikembangkan di ITS mampu memberikan berkah bagi masyarakat Indonesia,” ungkapnya.

Terkait kerja sama dengan KEIN, Agus menerangkan bahwa ITS telah lama menjalin kerjasama dengan KEIN. Salah satu bentuk kerjasama yang diterangkan Agus adalah dengan keikutsertaan merumuskan kebijakan melalui dosen ITS yang menjadi anggota KEIN. “Butuh sinergi antara pemerintah dan akademisi dalam pembangunan teknologi, terutama mengingat KEIN merupakan lembaga yang dibawahi langsung oleh Presiden,” paparnya.

Senada dengan Agus, Wakil Gubernur Jawa Timur Dr H Emil Elistianto Dardak MSc, yang turut hadir sebagai keynote speaker dalam acara tersebut mengungkapkan, merupakan hal yang penting bagi teknologi untuk tidak menjadi eksklusif bagi kaum urban. Menurutnya, teknologi harus disa diakses oleh desa.

Dengan hal tersebut, mantan Bupati Trenggalek ini menambahkan sektor ekonomi dan industri tertentu dapat dikembangkan di desa dan tidak harus terpusat. “Maka dibutuhkan pemetaan. Kami yakin, KEIN bisa menjadi institusi yang tepat untuk melakukan pemetaan,” tandasnya mengingatkan.

Di sisi lain, Emil mengemukakan bahwa ITS sebagai institusi teknologi beserta berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur merupakan aset bagi kemajuan teknologi Indonesia, khususnya Jawa Timur. “Tugas yang masih perlu kita bedah adalah bagaimana Surabaya memiliki iklim yang diminati pelaku start-up, karena ternyata Kota Malang lebih aktif mengembangkan start-up,” ungkapnya membuka fakta.(wh)