Lewat Musik, Siswa YPAB pun Diundang ke Jerman

Lewat Musik, Siswa YPAB pun Diundang ke Jerman

Siswa YPAB Gebang Putih bermain musik di ruang ibu G Soetopo, Selasa (29/11/2016). Foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Keterbatasan fisik tak membuat anak-anak yang menimba ilmu di Yayasan Penderita Anak Buta (YPAB) Gebang Putih, Surabaya berkecil hati. Mereka tetap bersemangat mewujudkan impiannya untuk menggapai prestasi setinggi-tingginya.

Spirit itu rupanya membuahkan hasil. Pasalnya, pada Juni 2016 lalu, sebanyak 15 siswa yang menjadi pemain angklung diundang ke Hildesheim, Jerman untuk pentas di sana.

“Kami diundang dalam peringatan ulang tahun Kota Hildesheim guna mengisi pertunjukan dengan memainkan musik angklung,” kata Eko Purwanti kepala sekolah YPAB Gebang Putih kepada enciety.co, Selasa (29/11/2016).

Di Jerman, mereka membawakan 15 lagu, satu di antaranya Bengawan Solo yang diciptakan Gesang. Saat tampil, mereka mendapat sambutan yang bagus.

Para siswa YPAB yang menekuni angklung juga kerap tampil di acara-acara besar di di Kota Surabaya.

“Tim angklung kami memang sering diundang untuk menunjukkan bakat siswa YPAB, seperti Unair dan terakhir tampil di SMK Negeri 5 saat acara Persami Akbar Sejuta Pramuka kemarin,” ujar dia.

Selain pintar main angklung, para siswa YPAB juga piawai bermain musik. Sekolah yang terletak di kawasan Timur Surabaya dan mempunyai 33 siswa terdiri dari SMP dan SMA. Dari 33 siswa buta ini, kini ada 4 siswa yang pintar memainkan alat musik di bawah bimbingan dari Riski Nurilawati, guru kesenian.

Seperti ditunjukkan keempat siswa YPAB–Putu Bram Moreno Sastrawan (keyboard), Iko Eric (bass), Rama (drum), dan Septian Kurniadi (gitar)– ber-jam session dengan Indro Hardjodikoro, eks pemain bass Halmahera yang kini aktif mengajar dan main jazz.

Mereka benar-benar memperlihatkan sisi bermusiknya di depan teman-teman dan undangan. Selain keempat siswa tersebut, di sekolah ini juga ada 6 siswa lain yang punya vokal bagus.

Eko menambahkan, cepatnya anak asuhnya bermain musik dikarenakan pihak sekolah memberikan kebebasan berekspresi.

“Kalau jam kosong pelajaran, silakan bermain asal bertanggung jawab terhadap alat musik. Mereka cepat menguasai karena yang lain mengajarkan kepada siswa yang baru masuk,” tutur dia. (wh)