Lewat Es Sop Buah, Gloria Bebaskan Jerat Utang Keluarganya

Lewat Es Sop Buah, Gloria Bebaskan Jerat Utang Keluarganya
Gloria Tampubolon menjadikan kehidupannya berbinar setelah sukses jualan es sop buah. Foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Hidup serba kekurangan membuat Gloria Tampubolon menjadi pribadi yang tangguh. Betapa tidak, lantaran impitan utang yang mendera keluarganya,

perempuan berumur 40 tahun ini, berjuang tak kenal lelah untuk membangun usaha. Hasilnya, dia pun menikmati kehidupan yang lebih baik.

“Utang orang tua saya untuk menghidupi kehidupan keluarga mencapai puluhan juta rupiah Mas. Saya ingin membalikkan kehidupan yang miskin untuk dapat menjadi kaya,” kata Gloria saat ditemui enciety.co di tempat jualannya di Teluk Betung Perak Barat, Surabaya.

Gloria menuturkan, sejak masih kecil ia sudah terbiasa melihat orang tuanya berutang. Hal itu untuk dapat menutupi kehidupan keluarganya. Ibaratnya, gali lubang tutup lubang. Ayahnya, Chasboin Sajali Tampubolon, sebelumnya sebagai nakhoda kapal penangkap ikan di perairan Indonesia. Akibat peraturan pemerintah yang melarang menggunakan pukat harimau, ayahnya akhirnya tak dapat lagi bekerja. Ayahnya lalu memutuskan menjual es sirsat di Perak Barat.

Bukan itu saja kepahitan yang dialami Gloria. Sang ibu, Mawardi Hanum, jatuh sakit berkepanjangan. Sementara keponakannya terkena penyakit tidak bisa mendengar dan butuh alat pendengaran, harganya saat itu sekitar Rp 15 juta.

es sop buah 1

Gloria terpacu dengan waktu. Dia ingin mementaskan kehidupan yang semakin terpuruk. Perempuan lulusan Sekolah Menengah Farmasi (SMF) di Kapasari tahun 1995 itu, kemudian memutuskan masuk kerja di pabrik koyo untuk dapat membayar utang keluarganya.

Di tempat kerjanya ini, Gloria terus menerus memikirkan kesehatan ibunya yang tidak bisa ditinggal terlalu lama. “Akhirnya saya putuskan keluar dan masuk di apotik Cemara Perak menjadi asisten apoteker,” tuturnya.

Kilas balik wanita kelahiran Cirebon ini akhirnya terjadi saat salah seorang mantan pengurus Rukun Warga (RW) di kampungnya mengajak Gloria untuk ikut bazar Pahlawan Ekonomi di Kaza City, tahun 2012 lalu.

Tanpa disadari, ternyata es buah yang dijualnya ikut dinilai oleh tim juri Pahlawan Ekonomi. Oleh mereka, Gloria diminta untuk terus mengikuti pelatihan. Dan berkat es buahnya, Gloria dinobatkan menjadi Juara III Pahlawan Ekonomi Surabaya 2012.

Menjadi juara, Gloria akhirnya bisa berkreasi secara terus menerus. Dengan melibatkan mentor atau guru kuliner dari Surabaya Hotel School (SHS), cita rasa es buahnya makin oke.

“Itulah yang membuat kehidupan saya berubah drastis. Dari punya utang, kini malah saya mampu membangun rumah menjadi tingkat dua berkat juala es sop buah. Total renovasi Rp 200 juta untuk rumah saya. Ini bukan sombong lho, tapi maksudnya untuk menyemangati warga lainnya agar terus berusaha walau miskin karena kita tidak akan tahu masa depan,” tuturnya bijak.

Kini, setiap harinya Gloria harus berbelanja buah-buahan atau bahan baku untuk membuat es sop buah bikinannya hinga Rp 1 juta. Dengan menggunakan kurma dan gula batu sebagai sirupnya, Gloria mampu meraup omzet Rp 3 juta di musim panas dan Rp 2 juta di musim hujan per harinya.

“Alhamdulillah kini saya bisa membantu dua orang untuk menjadi pegawai. Namun saat memasuki bula puasa Ramadhan, saya perlu empat orang lagi untuk melayani pelanggan,” ujarnya bangga.

Dengan usahanya yang kontinyu dan ramai pengunjung, Gloria berencana membuka lagi tempat es sop buah dan es sarang burung agar dapat menjangkau pelanggannya. (wh)