Lestarikan Budaya, Risma: Perkenalkan Kultur Lokal Sejak Usia Dini

Lestarikan Budaya, Risma: Perkenalkan Kultur Lokal Sejak Usia Dini

 

Meski modernisasi makin deras, nilai-nilai budaya harus tetap dipertahankan sebagai jati diri bangsa. Jika tidak, kebudayaan lokal dapat diklaim bangsa asing.

Hal itu diutarakan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat didapuk menjadi pembicara dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Bidang Kebudayaan 2014 di Hotel JW Marriot, Rabu (2/4/2014).

Risma mengatakan, tak henti-hentinya mendorong para pelajar dan kaum muda di Kota Pahlawan untuk mencintai budaya. Caranya dengan memperkenalkan kultur lokal sejak usia dini.

“Kesenian sudah mulai diajarkan mulai jenjang sekolah dasar. Misalnya, seni karawitan, gamelan, ludruk sampai tari-tarian tradisional. Yogyakarta sampai pernah heran, kok bisa Surabaya punya dalang cilik sebanyak itu,” ujarnya lantas disambut tepuk tangan meriah. Itu semua, lanjutnya, agar kecintaan akan budaya Indonesia tertanam kuat di benak para pelajar Surabaya.

Selain menanamkan nilai budaya melalui jalur edukasi formal di sekolah, pemkot juga menyediakan wadah untuk berekspresi. Risma mengutarakan, pemkot baru saja menggelar konser kolaborasi musik jazz, keroncong, dan campur sari.

“Semua genre musik itu dikemas dalam bentuk orkestra dan dihelat di Balai Budaya (kompleks Balai Pemuda). Dicampur juga sama hip-hop yang anak muda banget,” ujarnya.

Ternyata itu mampu menarik animo masyarakat. Gedung berkapasitas sekitar 800 orang tersebut penuh. “Kolaborasi merupakan salah satu cara memperkenalkan budaya kepada para kawula muda Surabaya. Kini musik keroncong sudah bukan milik orang-orang tua saja. Sekarang sudah banyak grup-grup musik keroncong yang isinya anak-anak muda. Mereka membawakan aneka lagu terkini dengan aransemen keroncong,” papar Risma di hadapan 300 peserta rakor dari 32 UPT Dirjen Kebudayaan se-Indonesia.

Risma juga menyebut Festival Rujak Uleg. Festival ini, lanjut Risma, diharapkan mampu memperkenalkan makanan khas Surabaya yakni rujak cingur di kancah internasional.

“Ya isinya orang-orang nguleg rujak. Mereka sampai rela panas-panas pakai dandanan unik sambil nguleg rujak cingur secara massal,” kisahnya.(wh)