Selasa, November 29, 2022
Google search engine
BerandaBusinessLepas Pandemi, Sanggupkah UMKM Hadapi Resesi?

Lepas Pandemi, Sanggupkah UMKM Hadapi Resesi?

Wabah covid-19 kini mulai berangsur pulih. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap keberadaan pelaku usaha kecil mikro menengah (UMKM).

Setidaknya sekarang tidak ada lagi pembatasan fisik (social distancing). Event-event seperti pameran dan bazar yang melibatkan pelaku usaha makin menjamur.

UMKM juga makin bergairah memanfaatkan ruang-ruang terbuka untuk mempromosikan produk-produknya. Usaha yang sempat layu, lamat tapi pasti, kembali mekar.

Para pelaku UMKM yang dulu sempat “menggeser” usaha dengan ikut-ikutan menjual produk kuliner saat pandemi, kini juga kembali ke pembuatan produk aslinya.

Krisis yang berlangsung dua tahun belakangan (pandemi covid-19) tersebut, benar-benar memberi pelajaran dan pengalaman berharga buat UMKM.

Ada dua hal yang pantas dicatat dari keadaan masa itu. Pertama, gejolak pandemi juga mengharuskan pelaku UMKM adaptif dengan keadaan. Mereka tidak bisa hanya menyalahkan keadaan. Menyalahkan lingkungan maupun pemangku kekuasaan.

Karena menyalahkan keadaan tak mengubah apa pun. Sama sekali tak  berdampak pada kelangsungan usahanya. Bahkan malah membuat usahanya terpuruk.

Yang dibutuhkan adalah bekerja lebih cerdas, lebih produktif, dan lebih efektif. Juga mampu mengantisipasinya pekerjaan yang datang mendadak. Berikut kemungkinan untuk melakukan penyesuaian produksi.

Kedua, pandemi telah melahirkan fleksibilitas bagi para pelaku UMKM. Di mana mereka harus berpikir keras untuk bertahan dan mencari peluang di masa sulit.

Fenomena umum kala itu adalah banyak pelaku UMKM yang tidak membuat produk aslinya. Sebelumnya, mereka membuat tas, rajutan, daur ulang, fashion, dan lain sebagainya.

Namun di masa krisis, mereka beralih menjual produk-produk makanan atau minuman. Memproduksi barang-barang yang lebih dibutuhkan masyarakat, seperti baju hazmat, masker, maupun APD dikerjakan. Berikut juga dalam penyesuaian daya belinya.

Lepas Pandemi, Sanggupkah UMKM Hadapi Resesi?
Tri Rismaharini sukses membuat program Pahlawan Ekonomi. foto: ist

***

Tahun 2023, alarm bahaya disampaikan pemerintah. Kondisi ekonomi bakal gelap. Presiden Jokowi menyampaikan, hingga saat ini masih belum bisa dikalkulasikan kekuatan resesi global dan pengaruhnya terhadap situasi ekonomi.

Para pelaku UMKM pun diminta mewaspadai ancaman resesi ekonomi tersebut. Karena dampaknya tidak bisa diprediksi. Bisa tidak sehebat akibat pandemi covid-19, tapi juga bisa sebaliknya: lebih buruk!

Yang terang, menghadapi resesi bukan perkara mudah. Banyak gejolak, hentakan, tekanan, distorsi, dan kendala lain yang akan dihadapi pelaku UMKM.

Di sisi lain, Menparekraf Sandiaga Uno bilang, UMKM ini adalah obat mujarab dalam menghadapi resesi, di mana UMKM menciptakan 97 persen lapangan kerja. Oleh karena itu, UMKM justru adalah jawaban untuk menghadapi resesi itu sendiri.

Di banyak daerah di Indonesia, pemberdayaan UMKM  juga tak berhenti. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dialokasikan cukup besar untuk memberdayakan UMKM.

Berbagai pelatihan untuk peningkatan kemampuan dan ketrampilan terus dilakukan. Bahkan digelar secara periodik. Mentor-mentor kelas lokal, nasional sampai internasional didatangkan.

Keberpihakan (affirmative action) yang dilakukan pemerintah daerah juga makin besar dan luas. Bukan hanya menyediakan fasilitas dan akses berusaha, tapi juga terkait legalitas dan perizinan usaha. Semuanya diberikan secara cuma-cuma alias gratis.

Di banyak daerah, urusan makanan dan minuman (mamin) untuk kegiatan rapat-rapat dinas dan pertemuan dengan pihak luar, diwajibkan memakai produk-produk UMKM.

Tak hanya itu saja. Ritel, mal, dan hotel diwajibkan menjual barang-barang produksi UMKM.  Setiap ada event yang mendatangkan banyak orang juga wajib melibatkan UMKM. Setidaknya menyediakan stan agar produk-produk UMKM bisa nangkring dan dijual di situ.

Program pemberdayaan UMKM pun kini menjadi salah satu isu paling populis. Di mana pemerintah bisa dianggap berhasil bila mampu memberikan kesempatan seluas-seluarnya kepada warganya. Bisa membuat warganya sejahtera. Bisa membuka lapangan usaha.

Event Mlaku-Mlaku Tunjungan yang jadi andalan UMKM pasarkan produk. foto: pe surabaya

***

Bukan bermaksud membandingkan, tapi program pemberdayaan yang masih eksis dan bertahan lama menurut saya adalah Pahlawan Ekonomi. Program yang diinisiasi Tri Rismaharini (saat itu masih menjabat wali kota Surabaya).

Risma merilis program ini tahun 2010. Hingga masa kepemimpinan berhasil dan dia menjabat Menteri Sosial RI, Pahlawan Ekonomi masih terus berlangsung.

Pelatihan rutin Sabtu-Minggu masih berjalan. Event road show yang memamerkan produk-produk UMKM juga masih dilakukan. Hanya saja sekarang dibagi menjadi per wilayah di Surabaya, bukan per kecamatan seperti dulu.

Banyak pelaku usaha yang bergabung dengan Pahlawan Ekonomi kini telah berdaya dan mandiri. Bisa menjalankan usahanya secara berkelanjutan. Mendapatkan omzet yang bagus, jauh melebihi UMP maupun UMK yang diterima outsourcing maupun ASN.

Banyak pemerintah daerah (kabupaten dan kota) di Indonesia mengadopsi program Pahlawan Ekonomi ini. Pun Pahlawan Ekonomi satu-satunya program pemberdayaan UMKM yang menjalin kerja sama dengan Facebook hingga enam tahun.

Hasilnya nyata. Kapasitas bisnis dalam jangkauan penjualan pelaku usaha Pahlawan Ekonomi lebih luas. Mereka pun jauh lebih terampil menggunakan instrumen digital. Apalagi saat pandemi lalu mereka dipaksa harus bertransformasi total melakukan penjualan online.

Belakangan, setelah melewati krisis selama pandemi, Pahlawan Ekonomi menanamkan tiga hal penting yang harus dilakukan agar usaha lebih bisa bertumbuh.

Pertama, inovasi produk. Pelaku usaha harus belajar agar bisa dekat terus dengan konsumennya. Salah satunya dengan menjual produk baru yang inovatif.

Belajar dari McD yang selalu menyimpan produk yang kemudian dihidupkan lagi. Biasanya pada momen-momen tertentu seperti Lebaran, Natal, atau Tahun Baru.

Mungkin  pernah dengar namanya food prosperity. Menu yang disajikan khusus yang dijual tidak dalam jangka waktu lama. Selama satu atau dua bulan dijual, setelah itu ditarik lagi.

Idenya McD tersebut menarik. Bagaimana McD mengkomunikasikan kepada pelanggannya. Mengikat ingatan dan memancing orang untuk selalu tertarik membeli produk-produknya

Tri Rismaharini dan Eri Cahyadi bersama pelaku usaha Pahlawan Ekonomi. foto: diskominfo surabaya

Pelaku UMKM pun begitu, tidak hanya menjual produk itu-itu saja. Ada saatnya mempromosikan produk baru. Bagaimana pun juga jualan juga butuh jalaran, begitu kata orang Jawa.

Kedua, persistence atau tidak kenal menyerah. Pelaku usaha harus gigih. Punya mindset petarung. Berani menghadapi kenyataan dan berani menjalani prosesnya. Tidak mengenal kamus gagal, tapi mencoba sekali lagi.

Soal kegagalan in bisa merenungkan apa yang disampaikan Chairul Tanjung (pengusaha sukses dan bos CT Corp). Ketika memberi motivasi kepada pelaku usaha Pahlawan Ekonomi, dia bilang, “Kalau jatuh harus segara bangun. Jatuh lagi, bangun lagi. Sampai jatuhnya bosen sama kamu.”

Dalam konteks itu, pelaku usaha diingatkan jika bangkit dari kegagalan itu wajib hukumnya. Tapi jangan cuma berpusar di situ saja. Harus belajar soal penyebab kegagalannya.

Spirit pantang menyarah itu harus dibarengi dengan target yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan tepat waktu. Karena itulah yang membedakan mereka dengan usaha rumahan biasa.

Ketiga, keluar dari pakem. Kadang usaha butuh sentuhan lebih kreatif. Salah satu yang dicontohkan adalah membuat paket premium, selain paket reguler atau paket ekonomi.

Dalam hal ini saya ingin memberi ilustrasi yang dilakukan pelaku usaha Pahlawan Ekonomi, Diah Arfianti. Produknya kue kering, berlabel Diah Cookies.

Di momen tertentu, dia membuat hampers premium. Harganya relatif mahal. Melebihi harga hampers yang dijual di toko besar, mal, maupun ritel modern.

Hasilnya penjualannya bagus. Hampers-nya selalu sold out. Margin yang didapat jauh lebih oke. Dari paket premium itu dia bisa mendapat uang lebih besar lagi.

Dari usaha yang dirintis sejak 2017 ini, Diah Arfianti bisa membeli empat mesin yang kapasitasnya sama seperti yang dipakai toko dengan brand ternama, menutup angsuran rumah, dan membeli mobil dengan cash.

Ketika artikel ini ditulis, Diah Arfianti bersama suaminya masih menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci. (agus wahyudi)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments