Lebih Hebat dari ATR, Tahun Depan  Prototipe Pesawat Habibie Diproduksi

Habibie Terima Pesanan 125 Pesawat R80
Habibie Terima Pesanan 125 Pesawat R80

Prototipe atau bentuk awal pesawat terbang rancangan mantan Presiden RI BJ Habibie bertajuk Regio Prop 80 (R80) ditargetkan mulai dibuat pertengahan 2016. “Semoga pertengahan tahun depan sudah tuntas semua (desainnya) sehingga pertengahan tahun depan kami sudah mulai membuat prototipe (purwarupa). Masih lama dari segi desain,” ujar Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI), Ilham Habibie, di Jakarta.

Ia menuturkan, saat ini pihaknya masih dalam tahap pembuatan desain awal R80, yakni dalam proses pemilihan komponen utama seperti mesin dan sistem pengendalian pesawat. Pesawat R80 sebelumnya ditargetkan mulai terbang pada 2019, tetapi karena masalah teknis, Ilham memperkirakan pesawat tersebut baru siap diterbangkan pada 2021.

Untuk saat ini, tutur die a, terdapat tiga perusahaan penerbangan yang memesan pesawat itu mencapai total 145 unit, yakni dari Kalstar Indonesia, Nam Air, dan Trigana Air.

Sementara itu, untuk mesin pesawat, Ilham Habibie mengatakan PT RAI akan menggunakaan mesin dari di antara tiga perusahaan pembuat mesin pesawat yang dipilih, yakni Rolls Royce asal Inggris, Pratt and Whitney asal Amerika Serikat serta General Electric asal Amerika Serikat.

Pesawat R80, menurut dia, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pesawat lain, di antaranya lebih besar dan hemat dalam penggunaan bahan bakar. “Saya lihat biaya pengoperasian pesawat 30-50 persennya terkait bahan bakar, jadi mesin sangat menentukan. Kemajuan lain pesawat ini bisa juga di aerodinamika, kenyamanan kabin, material lebih maju, tapi yang paling penting lebih hemat 10-15 persen dibanding pesawat ATR,” ujar Ilham Habibie.

Dengan keunggulan tersebut, Ilham Habibmengatakan belum menentukan harga pasti untuk R80 karena belum menentukan mesin dan komponen-komponen yang akan dipakai. Namun, ia memperkirakan akan dibanderol sebesar US$ 22 juta hingga US$ 25 juta per unit.

R80 merupakan suksesor dari pesawat N250 buatan IPTN yang kini disebut PT Dirgantara Indonesia. Sementara PT RAI yang mengembangkan R80, adalah perusahaan pembuat pesawat terbang komersil milik BJ Habibie. (ant)