Lebaran, Omzet Pedagang Kampung Lontong Naik Tiga Kali Lipat

Lebaran, Omzet Pedagang Kampung Lontong Naik Tiga Kali Lipat
Ari Siswanto, Koordinator Paguyuban Kampung Lontong Surabaya, raup berkah pada Lebaran tahun ini. arya wiraraja/enciety.co

Pedagang Kampung Lontong Surabaya mengakui Lebaran 2015 mendatangkan rezeki berlimpah. Para pedagang di kampung tersebut dapat mengumpulkan omzet sebesar Rp 3 juta dalam sehari.

“Setiap harinya rata-rata kami dapat menghasilkan omzet sebesar Rp 1 juta,” terang Ari Siswanto, Koordinator Paguyuban Kampung Lontong Surabaya, kepada enciety.co, Jumat (24/7/2015).

Kampung lontong yang berada di Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, Surabaya ini pada hari biasa dapat memproduksi 1.000 lontong, dengan perhitungan 1 kilogram beras dapat menghasilkan 20 buah lontong.

“Ketika Lebaran datang produksi meningkat 4 hingga 5 kali lipat. Total permintaan lontong dan ketupat dapat mencapai 5.000 buah,” tutur dia.

Ia lalu menjelaskan saban harinya 76 pedagang lontong di kampungnya rata-rata dapat memproduksi beras 2.150 kilogram. Dengan beras sebanyak itu kami dapat memproduksi 40.000 buah lontong setiap harinya.

“Untuk bahan dasar lain berupa daun pisang, setiap pedagang dapat mengahabiskan 4 bal daun pisang, tiap satu bal daun berisikan 12 ikat daun pisang,” papar dia.

Sampai saat ini, lanjut Ari, pedagang lontong tidak memiliki sumberdaya cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar. “Banyak permintaan pasar yang tidak dapat kami penuhi,” ujarnya.

Ari melanjutkan, jika untuk beras mereka dapatkan dari pasar induk beras di Surabaya. “Beberapa waktu yang lalu kami sempat mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota Surabaya mendapat suplai beras dari Bulog,” terang dia.

Selain itu, sebut Ari, bahan dasar lain yang dipakai adalah daun pisang. Ia mengaku kebanyakan daun yang dipergunakan di dapat dari pedagang daun asal Malang, Pasuruan dan Probolinggo.

“Saat ini, kami tidak kesulitan untuk mencari bahan daun pisang. Dengan berkembangnya Kampung Lontong, para pengepul daun berdatangan dari luar kota,” akunya.

kampung-lontong-2   kampung-lontong-3

Sementara itu, Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya, mengatakan bahwa seluruh pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia harus bercermin pada apa yang dilakukan Paguyuban Kampung Lontong Surabaya.

“Pelaku UKM yang telah sukses dalam mengembangkan usahanya baiknya dapat membuat sebuah asosiasi, dengan adanya asosiasi para pelaku UKM dapat menentukan standarisasi produk yang akan mereka hasilkan,” jelasnya.

Kresnayana juga menuturkan, pembentukan asosiasi berfungsi sebagai kekuatan yang memiliki nilai tawar di arena perekonomian makro. “Efek adanya asosiasi dapat dirasakan oleh para pedagang yang ada di Kampung Lontong. Saat ini mereka memiliki pangsa pasar di seluruh pasar tradisional yang ada di Kota Surabaya,” ungkap dosen statistika ITS tersebut.

Hampir semua makanan khas Surabaya membutuhkan lontong sebagai pelengkapnya. Kresna mengimbuhkan, bahwa saat ini, keberadaan kampung lontong menjadi penting bagi dunia bisnis kuliner yang ada di Kota Surabaya.

“Kami berharap, ke depan bukan hanya kampung lontong, penggiat UKM di Kota Surabaya dapat menciptakan kampong-kampung kreatif lainnya. Contohnya kampung handicraft, kampung bakso dan lain sebagainya,” ujarnya. (wh)