Lebaran, BI Proyeksikan Kebutuhan Uang Capai Rp 125,2 Triliun

Lebaran,  BI Proyeksikan Kebutuhan Uang Capai Rp 125,2 Triliun
foto: tribunnews.com

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kebutuhan uang atau uang keluar (outflow) periode Ramadan hingga Lebaran 2015 mencapai Rp 125,2 triliun. Angka ini diperkirakan naik tipis 0,3 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 124,8 triliun.

Kepala Divisi Perencanaan dan Pengembangan Departemen Pengelolaan Uang BI, Yudi Harymukti mengungkapkan, kebutuhan uang tunai periode Lebaran mengalami peningkatan rata-rata sebesar 14,7 persen per tahun.

Karakteristik kebutuhan uang periode Ramadan dan  lebaran umumnya bersiklus 3 tahunan mengingat selisih hari antara kalender Masehi dan Hijriah 10-11 hari.  “Outflow periode Ramadan dan Idul Fitri 2015 diperkirakan sebesar Rp 119,1 triliun-Rp Rp 125,2 triliun atau mengalami sedikit perubahan minus 4,6 persen sampai dengan 0,3 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 124,8 triliun,” jelas dia saat berbincang dengan wartawan di kantornya, Jakarta, Kamis (25/6/2015).

Dikatakan Yudi, kenaikan kebutuhan uang Lebaran tidak terlalu signifikan mengingat jumlah hari libur Lebaran tahun ini lebih sedikit yakni 5 hari. Sedangkan jumlah hari libur Lebaran tahun lalu 6 hari, sehingga mempengaruhi kenaikan kebutuhan uang.  “Bulan puasa juga berlangsung di tengah bulan, sehingga konsumsi enggak terlalu tinggi. Jatuhnya juga enggak bentrok dengan gajian,” ujar dia.

Kenaikan kebutuhan uang tunai ini, sambung Yudi, dipengaruhi pula dari pembayaran gaji ke-13 untuk Pegawai Negeri Sipil (PNs)/TNI/POLRI. Alasan lain karena periode Ramadan bersamaan dengan liburan anak sekolah (Juni-Juli). Sementara perkiraan uang yang masuk akan mencapai Rp 23,7 triliun sampai Rp 24,9 triliun.

Berdasarkan datanya, kebutuhan uang di periode ini per kelompok pecahan akan didominasi uang pecahan besar Rp 20 ribu ke atas yang diperkirakan mencapai 91,7 persen dari total outflow. Serta sisanya 8,3 persen merupakan uang pecahan kecil Rp 10 ribu ke bawah.  “Sebaran wilayahnya, kebutuhan uang tertinggi selama Ramadan dan Lebaran berada di Pulau Jawa 32 persen, Jakarta 29 persen dan Pulau Sumatera 20 persen,” terang Yudi.  (lp6)