League of Change 2017 untuk Mantan Pecandu Narkoba

League of Change 2017 untuk Mantan Pecandu Narkoba

AKBP Suparti, Rudhy Wedhasmara dan M Afghani memeberikan keterangan pers di Hotel Grand Surabaya, Rabu (26/4/2017)

Untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap mantan pecandu narkoba, Yayasan Orbit Surabaya bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya dan Dispora Surabaya mengadakan League of Change (Turnamen Street Soccer) 2017.

Pertandingan yan akan digelar di lapangan Futsal kompleks Softball dan Hockey, Jalan Dharmawangsa pada 1-3 Mei nanti, akan diikuti 13 provinsi.

Kepala BNN Kota Surabaya AKBP Suparti mengatakan, League of Change dimaksudkan untuk melakukan pembinaan kepada mantan pengguna narkoba.

“Kami menjaga dengan pihak Dispora kota Surabaya untuk membawa mereka pada dampak yang positif. Kami tidak ingin acara ini terhenti agar saudara-saudara kita yang sudah dinyatakan clean atau bersih untuk tetap menjadi atlit,” tegas AKBP Suparti dalam jumpa pers di Hotel Grand Surabaya, Rabu (26/4/2017).

Kadispora Kota Surabaya M Afghani Wardhana menyatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya men-support penih League of Change tersebut.

“Kami men-support karena menyadari dengan event ini mantan pecandu mempunyai kesempatan untuk melakukan kegiatan positif dan kami berkewajiban untuk mewadahi mereka,” kata Afghani yang berharap pertandingan street soccer nanti menjadi momentum ke jalan yang benar dan hal positif.

Ketua pelaksana League of Change 2017, Rudhy Wedhasmara mengatakan selama ini para mantan pengguna narkoba merasa tersisihkan. Dengan kegiatan olahraga ini, diharapkan agar yang termajinalkan kini tidak lagi dipandang negatif.

Nantinya, selama kegiatan League of Change 2017 ini, tidak akan diticketing atau gratis. Harapannya juga sebagai ajang sosialisasi dan mengkampayekan support dont punish kepada mantan pengguna narkoba.

Rudhy yang juga menjadi pembina dari Yayasan Orbit tersebut memaparkan turnamen street soccer ini akan diikuti oleh 13  provinsi. Ke 13 provinsi yang menyatakan kesediaannya mengikuti pertandingan diantaranya Jawa Timur dengan 2 tim, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Makasar. Setiap tim yang berlaga akan mewakili kota atau provinsinya dan bukan organisasinya.

“Para pemain nanti tidak harus mempunyai ketrampilan skill sepakbola. Dan turnamen ini akan diseleksi untuk menuju ke kejuaran Homeless World Cup (HWC) yang setiap tahun digelar,” kata Rudhy.

Bahkan dalam tahun 2016 lalu yang diadakan di Glasgow Skotlandia, tim Indonesia menempati peringkat 7 dan mendapatkan penghargaan  penjaga gawang terbaik.

“Padahal penjaga gawangnya difabel gak punya kaki dan mereka memberikan apresiasi penghargaan kiper terbaik,” ujarnya.

Saat ditanyakan perbedaan dengan futsal, Rudy mengatakan istilah street soccer dipakai karena adanya eboard yang bola bisa dipantulkan dan tidak ada istilah bola keluar.

“Yang turun di lapangan nanti untuk bertanding adalah 4 pemain termasuk kiper yang ditunjuk dari 8 pemain yang diturunkan setiap timnya. Setiap tim berisikan 10 orang dengan 8 pemain, 1 manajer dan 1 pelatih. Ke 8 pemain ini adalah ODHA, korban Napza, anak jalanan dan dari latar belakang kurang mampu,” kata dia. (wh)