Launching Road Show PE 2014: Risma Minta Warga Surabaya Berdikari

Wali Kota Tri Rismaharini melihat produk UMK PE Surabaya saat Launching Road Show Pahlawan Ekonomi (PE) 2014 di Kecamatan Dukuh Pakis, Minggu (28/9/2014). foto:teguh andoria/enciety

Launching Road Show PE 2014: Risma Minta Warganya Berdikari
Wali Kota Tri Rismaharini melihat produk UMK PE Surabaya saat Launching Road Show Pahlawan Ekonomi (PE) 2014 di Kecamatan Dukuh Pakis, Minggu (28/9/2014). foto:teguh andoria/enciety

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta warganya agar mandiri. Menurut Risma, bentuk penjajahan ke depan itu bukan lagi perang, melainkan penjajahan sektor ekonomi.

“Ini ancaman besar bagi anak-anak kita. Saya yakin di sini 90 persen warga Surabaya pengguna HP. Tapi apa ada HP buatan Indonesia atau Surabaya? Artinya kita sudah dijajah. Ini belum produk yang lainnya,” ujar Risma saat Launching Road Show Pahlawan Ekonomi (PE) 2014 di Kecamatan Dukuh Pakis, Minggu (28/9/2014)

Menurut Risma, sebetulnya peluang Surabaya untuk mengusai ekonomi ASEAN sangat besar. Ini lantaran jumlah penduduk Surabaya yang mencapai 3,1 juta jiwa bisa menjadi pasar yang menjanjikan untuk komoditas ekonomi buatan Surabaya sendiri.

“Kalau kita renungkan secara mendalam, tuhan memberikan karunia kepada bangsa ini luar biasa. Saya bandingkan dengan kota di Malaysia dan Jerman rata-rata hanya berpenduduk 180 ribu jiwa. Karena itu, 3,1 juta jiwa penduduk Surabaya semuanya butuh makan, butuh pakai baju. Kalau kemudian kebutuhan hidup itu dipasok oleh orang luar ya kebangeten,” bebernya.

Atas dasar itu, membuat Risma mencontoh apa yang diterapkan Pakistan untuk membuat Pahlawan Ekonomi di Surabaya. “Karena itu saya ingin memnbangitkan pahlawan ekonomi. Di negera pakistan PE sudah terbukti hasilnya. Kalau digerakkan oleh ibu rumah tangga pergerakannya akan sangat cepat. Di Surabaya sudah ada beberapa ynag berhasil,” terangnya.

Meski demikian, tantangannya sangat besar. Risma mencontohkan, sejumlah produksi kerudung warga Surabaya kini sudah ada yang diekspor ke luar negeri.

“Ada ibu-ibu yang sudah punya 60 karyawan. Beliau memulai membuat usaha kerudung pada November 2010. Ini sudah ekspor ke luar negeri. Karena itu harus menangkan ekonomi,” jelasnya.

Ini karena menurut Risma penjajahan nantinya akan secara masif pada sektor ekonomi. Kalau Surabaya tidak bisa memanfaatkan peluang ini, sektor ekonomi akan diambil oleh orang lain.

“Kalau 3,1 juta warga kita dibiarkan saja, maka kita hanya menjadi pasar. Itu namanya kita dijajah kembali. Karena penjajahan ke depan ke depan bukan saja perang-perangan. Tapi penjajahan lewat sektor ekonomi yang menguasahi kebutuhan hidup kita,” ungkapnya.

Risma juga mencontohkan Argentina sebagai negara yang sudah merdeka lebih dari 200 tahun tapi ternyata bangkrut karena kurangnya kesiapan pada sektor ekonomi.

“Di sana jam 9 malam lampu dimatiin semua. Kalau taman di sini free wifi, di Argentina menggunakan internet dibatasi hanya setengah jam saja. Karena itu kita harus bangkit menghidupkan ekonomi kita,” imbuhnya.

Sebelum mengikuti road show, warga Dukuh Pakis juga terlihat mengikuti pelatihan Pahlawan Ekonomi 2014 di kecamatan Dukuh Pakis, Sabtu (27/9/2014). Ratusan ibu-ibu tampak mengamati cara membuat bunga dari kain perban untuk menjadi Creative Industry (CI).

Selain itu, bagi warga yang berminat untuk mengembangkan potensi bisnis kuliner, mereka diajarkan cara membuat nasi krawu. “Ternyata cara membuatnya mudah. Tinggal manejemnnya saja yang perlu ditata untuk bisa menjadi Culiner Business (CB),” terang satu di antara peserta, Alma (35).

Sementara untuk kalangan Home Industry (HI), pada pelatihan PE 2014 tersebut juga memberikan pembekalan tentang cara sukses membuat abon daging. Dengan tanpa harus meninggalkan peran ibu-ibu sebagai ibu rumah tangga, mereka dapat mengembangkan ide-idenya untuk menambah pendapatan rumah tangga. (wh)