Lansia, Waspadalah Sindrom Geriatri

Lansia, Waspadalah Sindrom Geriatri
Prof Marlina S. Mahajudin, dr SPKJ (K), Dokter staf Instalasi Rawat Inap Jiwa RSUD dr Soetomo

 

Setiap dekade, perpanjangan Angka Harapan Hidup (AHH) manusia bisa mencapai 2,5 tahun. Penyebabnya ialah peningkatan kualitas hidup lansia di masa kini. Maka, terjadi pula perpanjangan harapan hidup. Namun, masyarakat perlu waspada dengan perpanjangan AHH yang tidak linier dengan kesehatan para lansia.

Dokter staf Instalasi Rawat Inap Jiwa, Prof Marlina S. Mahajudin, dr SPKJ (K), mengatakan memasuki usia lanjut, manusia akan menghadapi beberapa masalah. Depresi, kurangnya produktivitas, dan hubungan interpersonal adalah di antaranya. Proses penuaan tentu berpengaruh terhadap menurunnya fungsi faali organ-organ. “Penuaan juga menyebabkan banyak dampak pada fungsi keseharian (disability),” ujarnya. Bisa dibilang, proses penuaan yang sukses diukur dari kesehatan pada 4 aspek, yakni fisik, psikologi (kognitif), spiritual, dan sosial.

Namun, para lansia sebagian besar dihantui oleh problem sindrom geriatri. Geriatri ialah kumpulan gejala dan atau tanda klinis dari satu atau lebih penyakit yang dimiliki oleh pasien lansia. “Mereka biasanya berusia lebih dari 60 tahun dengan masalah biopsikososial,” terangnya.

Di samping itu, secara tampian klinis pasien geriatri tidak menunjukkan ciri tertentu. Fungsi organnya telah menurun, disertai gangguan fungsional dan nutrisi. Untuk itu, seorang pasien geriatri minimal harus ditangani 5 orang dokter.

Berdasarkan data dari Poliklinik Geriatri RSUD dr Soetomo pada tahun 2012, setidaknya terdapat 5 permasalahan penyakit yang mendasar. “Pertama adalah hipertensi. Kedua diabetes melitus. Ketiga serangan jantung, lalu stroke dab chronic ischaemic heart disease,” rinci Prof Marlina.

Psikiater alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu lantas mengungkapkan, persoalan lansia ini memerlukan penatalaksanaan segera. “Perlu dilakukan identifikasi penyebab secara menyeluruh, serta comprehensive geriatric assessment,” katanya.

Sementara itu bagi pemerintah, ia menekankan bahwa AHH yang meningkat perlu diperhitungkan dengan baik. “Lansia itu perlu diayomi, diberi haknya. Bukan untuk dikorbankan,” tegasnya. Sehingga, ia berharap agar jangan hanya fokus pada pribadi lansia semata.

“Lingkungan suportif jauh lebih menentukan. Lansia harus ceria, tetap sehat, dan produktif,” imbuhnya. Di samping itu, ketersediaan layanan kesehatan bagi lansia harus terjamin. Sebab, lansia bukan warga kelas dua. “Kan sudah ada Perda no.5 tahun 2007 tentang Poli geriatri di setiap kabupaten/kota di Jawa Timur. Tapi sekarang sudah mrothol (buyar) satu per satu,” tukasnya.(wh)