250 Hektar Lahan Tebu Madura Pasok 10 Pabrik Gula

250 Hektar Lahan Tebu Madura Pasok 10 Pabrik Gula

Industri gula di Pulau Madura mempunyai prospek cerah. Pasalnya, banyak lahan di Pulau Garam tersebut bisa dikembangkan menjadi perkebunan tebu.

Hal itu disampaikan Direktur Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Aris Toharisman. Dia  menyebut lahan yang dimiliki Madura sangat potensial untuk dikembangkan.

“Setidaknya ada lahan sekitar 250.000 hektar yang bisa untuk memasok 10 pabrik gula,” ungkapnya, Kamis (23/1/2014) .

Aris menambahkan, kajian yang dilakukan P3GI menunjukkan fakta sekitar 250.000 hektar lahan di Madura sesuai untuk perkebunan dan bisa menghasilkan tebu antara 60-90 ton per hektarnya.

Dengan area seluas 250.000 hektar berpotensi memasok 10 pabrik gula (PG) baru, kapasitas giling masing-masing mencapai 10.000 ton per hari (TCD/ton cane per day). Sebagai pembanding, area tebu di Jatim saat ini sekitar 200.000 hektar dengan 31 PG mampu memproduksi gula sekitar 1,2 juta ton per tahun.

Aris menjelaskan, potensi area tanaman ini di Madura cukup besar untuk dikembangkan. Selain bisa menjadi tumpuan produksi gula, juga prospektif dikelola sebagai industri gula terpadu. Pabrik gula dapat diintegrasikan dalam sebuah kompleks industri berbasis tanaman ini.

Sebut saja bioetanol, listrik, kertas, pakan ternak, pupuk organik, dan produk-produk komersial lainnya. ”Integrasi semacam itu sulit dilakukan di Jawa, mengingat rata-rata kapasitas giling PG di Jawa hanya 3.500 TCD, sehingga hilirisasi produk turunan tebu sulit memenuhi skala keekonomian,” papar Aris.

Saat ini, area tebu di Madura baru mencapai sekitar 1.500 hektar yang sebagian besar terkonsentrasi di Sampang dan Bangkalan. Tahun 2014 areanya diharapkan meningkat menjadi 4.000 hektar, seiring dengan program pengembangan area yang didanai APBN. 

Dua tahun berikutnya area tebu di Madura diperkirakan mencapai 10.000 hektar. Bila dibanding dengan potensi daerah lainnya di luar Jawa, Madura jauh lebih menjanjikan. Infrastruktur tersedia sangat memadai. Jalan, jembatan, pelabuhan, jaringan listrik dan komunikasi tinggal pakai. Tenaga kerja juga cukup tersedia.

Kondisi tersebut diakui jauh berbeda dengan kota lain, seperti Merauke yang memiliki lahan sangat potensial untuk pengembangan tebu. ”Di Merauke infrastruktur dan tenaga kerja di sektor pertanian sangat terbatas. Kendala paling berat adalah infrastruktur seperti jalan saat musim hujan turun,” jelasnya.(wh)