Lahan Berkurang, Terapkan Intensifikasi dan Varietas Hybrida

Lahan Berkurang, Terapkan Intensifikasi dan Varietas Hybrida

Kebutuhan pangan yang meningkat, secara tak langsung menuntut ketersediaan lahan pertanian. Sayangnya, tak sedikit pula lahan pertanian yang berkonversi menjadi kawasan industri. Berdasarkan data Dinas Pertanian Jatim tahun 2012, rata-rata 1.081 hektar tiap tahun bermutasi. Meskipun begitu, fenomena ini sulit dihindari menyusul tumbuhnya iklim investasi Jatim.

Sejatinya, pemerintah provinsi telah mengatur RTRW untuk mengatasi persoalan tersebut. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Wibowo Eko Putro, mengatakan, proteksi terhadap luas lahan pertanian telah diatur melalui perda 5/2012 ttg RT/RW 2010-2031. “Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Jatim sudah ditetapkan sebesar 1.017.549 Ha. Artinya, sampai tahun 2031 lahan seluas ini tidak boleh ada yang dimutasi,” urainya.

Mutasi lahan itu lantas menjadi tantangan tersendiri. Ini dikarenakan, sebagai lumbung padi Jatim harus mampu mempertahankan produksi beras tahunan yang nilainya sekitar 12,1 jt ton. Eko menyatakan, pihaknya melakukan strategi dengan meningkatkan indeks pertanaman atau produktivitas per satuan luas per hektar.

“Kami mengembangkan berbagai varietas padi alias padi hibrida. Seperti  IR-62, Cilosari, IR-72, dan lain-lain. Di Jatim sendiri, 300 ribu hektar sudah mengembangkan penanaman padi hibrida per tahun,” terangnya. Meskipun bila dibandingkan China, langkah Indonesia cukup tertinggal. China telah mengembangkan padi hibrida sejak 1964.

Intensifikasi lantas menjadi memegang peranan penting pertanian Jatim karena diperkirakan, lahan pertanian hampir tak mungkin diperluas lagi. “Istilahnya adalah intensifikasi. Jadi, luas lahannya tetap. Tetapi kalau dulu satu kali tanam, sekarang ditingkatkan menjadi dua kali karena perbaikan irigasi di tingkat usaha tani,” terangnya.

Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya pun mengingatkan, produktivitas pangan harus segera diantisipasi. Sebab, setiap tahun jumlah penduduk Jatim bertambah sekitar 1 juta orang. Kini, lebih 40 juta jiwa hidup di provinsi ini. “Kita mutlak harus mengembangkan teknologi pangan dan berbagai support pada pangan. Bila tidak dilakukan, devisa negara bisa habis untuk impor dan negara akan terus mengalami defisit transaksi berjalan,” ungkapnya.

Di samping itu, persoalan musim tanam yang bergeser juga perlu segera disikapi. Kresna pun mengingatkan ancaman inflasi 3-4 persen tiap tahun pada produk hortikultura seperti bawang merah, cabe, dan rempah-rempah.

“Kalau padi, mungkin Jatim sudah aman. Tapi hortikultura ini masih perlu perhatian. Maka supply dan demand harus dipetakan, sehingga pada tahun-tahun berikutnya Jatim mulai konsentrasi ke hortikultura,” ulasnya. Informasi yang akurat dari pemerintah kepada masyarakat, kata Kresna, sangat diperlukan agar mereka bisa bersikap lebih antisipatif.