Kuartal I, Pendapatan Semen Indonesia Rp 6,2 T

 

Kuartal I, Pendapatan Semen Indonesia Rp 6,2 T

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk terus memantapkan diri untuk mewujudkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Grup Semen Indonesia yang terdiri dari Semen Padang, Semen Tonasa, Semen Gresik, dan Thang Long Cement Vietnam ini, telah menyiapkan strategi terpadu untuk memperkuat kinerjanya.

”Dengan sejumlah strategi yang telah dan akan dijalankan, kami ingin memastikan percepatan pertumbuhan bisnis keberlanjutan. Perseroan optimistis tetap tampil sebagai market leader di industri semen nasional, bahkan mengembangkan pasar di luar negeri,” ujar Direktur Utama Semen Indonesia Dwi Soetjipto dalam acara seminar Institutional Investor Day 2014 di Jakarta, Kamis (7/5/2014).

Hingga kuartal I/2014, Perseroan memimpin penguasaan pasar (market share) semen nasional sebesar 43,8 persen dengan mencatat penjualan sebesar 6,2 juta ton, meningkat 3,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,9 juta ton. Pendapatan sebesar Rp 6,2 triliun, meningkat 11,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 5,5 triliun. Laba bersih sebesar Rp 1,3 triliun atau tumbuh 5,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,2 triliun.

Sepanjang kuartal I/2014, Perseroan mencatat penjualan sebesar 6,2 juta ton, meningkat 3,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,9 juta ton. Pendapatan tercatat sebesar Rp 6,17 triliun, meningkat 11,43 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 5,54 triliun dan laba bersih tercatat sebesar Rp 1,3 triliun atau tumbuh 5,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,23 triliun.

Dwi Soetjipto menjelaskan, pasar semen ke depan akan terus bertumbuh. Dengan asumsi pertumbuhan 6 persen per tahun, konsumsi semen pada 2017 diprediksi akan menembus 73,55 juta ton dibanding posisi 2013 di kisaran 58 juta ton.

”Jika tak ada penambahan kapasitas, dikhawatirkan terjadi shortage semen pada masa mendatang yang akan menghambat pembangunan nasional. Dengan prospek seperti itu, industri semen menempati posisi strategis dan Perseroan mengantisipasi peluang ini dengan menerapkan perpaduan strategi mulai dari hulu sampai hilir,” kata Dwi Soetjipto.

Salah satu strategi utama adalah peningkatan kapasitas dengan penambahan kapasitas (upgrading) pada pabrik-pabrik yang telah beroperasi (existing plant) dan pembangunan pabrik baru. Saat ini Perseroan tengah membangun pabrik baru di Jawa Tengah dan Sumatera Barat yang masing-masing berkapasitas 3 juta ton.

Strategi lainnya dilakukan dengan mengakuisisi perusahaan semen maupun menjajaki potensi kemitraan melalui pembentukan perusahaan patungan (joint venture). Dengan perpaduan strategi tersebut, Perseroan menargetkan kapasitas produksi mencapai 40,8 juta ton pada 2017.

”Di setiap pabrik baru akan dilengkapi dengan power plant, sehingga bisa efisien dan dapat menekan biaya energi. Misalnya, di Pabrik Tonasa V di Sulawesi Selatan yang dilengkapi dengan power plant 2 x 35 MW, pembangkit listrik terbesar yang pernah dibangun terintegrasi dengan industri semen,” pungkasnya. (wh)