Kuartal III-2015, Bukopin Catat Laba Rp 977 M

Bukopin Dukung Surabaya Jadi Pusat Pengembangan Ekonomi Syariah
Bukopin Dukung Surabaya Jadi Pusat Pengembangan Ekonomi Syariah

bank bukopin

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) hingga kuartal III-2015 berhasil membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 977,8 miliar. Sementara laba bersih pada periode tersebut tercatat sebesar Rp 798 miliar, tumbuh 17,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Pertumbuhan laba ini menunjukkan kinerja perseroan semakin membaik di tengah situasi makroekonomi yang belum kondusif,” kata Direktur Utama Bank Bukopin Glen Glenardi saat menyampaikan paparan kinerja Perseroan di Jakarta.

Hingga September tahun ini, kredit yang disalurkan Bank Bukopin mencapai Rp 62,7 triliun atau melonjak 24,5 persen dibandingkan dengan kuartal ketiga tahun lalu yang mencapai Rp 50,4 triliun.

Glen menjelaskan pertumbuhan kredit dimotori sektor ritel yang terdiri dari kredit usaha kecil menengah (UKM), mikro dan konsumer yang meningkat 22,56 persen secara year-on-year menjadi Rp 39,59 triliun. Dari total kredit ritel, segmen UKM tumbuh 26,80 persen menjadi Rp 25,2 triliun dan segmen mikro sebesar 57,37 persen menjadi Rp 7,6 triliun, sedangkan kredit konsumer mencapai Rp 6,8 triliun.

Pada periode yang sama, penyaluran kredit komersial mencapai Rp 23,2 triliun. “Dengan pencapaian tersebut, total kredit yang disalurkan Bukopin selama sembilan bulan pertama 2015 mencapai Rp 62,74 triliun, meningkat 24,50 persen secara year-on-year,”kata Glen.

Direktur Keuangan dan Perencanaan Bank Bukopin Eko Rachmansyah Gindo menjelaskan sampai September 2015 posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 73,5 triliun, meningkat 14,68 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Komposisi DPK masih didominasi deposito sebanyak 68,70 persen disusul tabungan 20,35 persen dan giro 10,95 persen.

Pada periode yang sama, fee based income (pendapatan non bunga) tumbuh 26,21 persen menjadi Rp 913 miliar. Sementara loan deposit ratio (LDR) berada pada kisaran 84,88 persen, dan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 14,16 persen. “Secara keseluruhan, pertumbuhan kinerja terlihat dari posisi aset yang tumbuh 14,84 persen dibandingkan September tahun lalu yaitu menjadi Rp 89,5 triliun,” ujarnya. (bst)