Kuartal I, Target Investasi Surabaya Tak Tercapai

Kuartal I, Target Investasi Surabaya Tak Tercapai
sumber foto: lensaindonesia

Target investasi di Surabaya kuartal I ini tak tercapai. Pertumbuhan ekonomi Surabaya turun dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kalau tahun lalu, Januari-Maret pertumbuhan ekonomi Surabaya mencapai 7,54 persen, tahun ini turun menjadi 6 persen. Ini menjadi ‘PR’ bagi Badan Koordinasi Pelayanan dan Penanaman Modal (BKPPM) Kota Surabaya, untuk mencari terobosan agar target investasi Rp 44 triliun tercapai.

Turunnya iklim ekonomi Surabaya ini diakui Kepala BKPPM Kota Surabaya Eko Agus Supiadi Sapoetra.Dampaknya ikut dirasakan pada arus investasi di Surabaya. Penurunan ini memang tak hanya dialami Surabaya saja sebab secara nasional ada penurunan sebesar 5 persen. Akibat penurunan itu selama 3 bulan awal, investasi Surabaya turun sekitar 20 persen.

“Meski ada penurunan pada kuartal I tapi saya tetap akan menargetkan pertumbuhan investasi selama setahun ini mencapai 10 persen. Kalau sekarang ada penurunan itu tidak masalah,” katanya, Kamis (4/6/2015).

Untuk bisa menggaet investor masuk Surabaya dibutuhkan infrastruktur kota  yang memadahi termasuk diantarnya akses jalan. Sebab jalan menjadi alat utama untuk mobilitas orang dan barang. Kalau tanpa didukung fasilitas jalan yang bagus, tidak ada  kemacetan di mana mana, mustahil investor mau menanamkan modalnya. “Saat ini yang banyak dibangun di Surabaya hotel dan apartemen. Itu salah satu sektor yang menraik bagi para pemodal,” katanya.

Menanggapi penurunan ekonomi Surabaya, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Surabaya, Widodo Suryantoro mengatakan, secara nasional memang ada penurunan pertumbuhan ekonomi. Salah satu masalah adalah kenaikan UMK yang baru lalu. Kenaikan UMK yang cukup signifikan ini ikut membuat para pengusaha menurunkan produksinya sehingga ikut berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu juga ada kenaikan BBM yang ikut berpengaruh.

“Untuk kenaikan UMK Surabaya paling besar. Jumlahnya dari Rp 2,2 juta pada 2014 menjadi Rp 2,71 juta tahun ini. Juga ada kenaikan TDL yang diakui juga ikut mendorong penurunan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Namun menurut Widodo, penurunan ekonomi pada awal tahun ini masih cukup wajar terjadi. Sebab biasanya juga berlangsung seperti itu, baru kemudian pada bulan bulan berikutnya ekonomi akan turun naik lagi secara perlahan. Pihaknya juga menguatkan UMKM di Surabaya dengan melakukan pelatihan pelatihan. Tahun ini dianggarkan sebesar Rp 2,6 miliar utnuk pelatihan para pelaku UMKM. (wh)