Krisis Yunani Tak Berujung, Harga Minyak Makin Terpuruk

Krisis Yunani Tak Berujung, Harga Minyak Makin Terpuruk
foto: netdna-cdn.com

Harga minyak berjangka cenderung melemah bahkan menembus level terendah dalam tiga minggu ini. Hal itu dipicu dari pemerintahan Yunanimenutup bank dan mengatur kontrol modal sehingga membuat risiko semakin luas. Sementara itu, Iran seperti menunda negosiasi nuklir dengan negara barat sehingga membuat ekspor bertambah mengakibatkan pasokan minyak banjir di pasar.

Harga minyak jenis Brent turun USD 1,2 atau hampir 2 persen menjadi USD 62,01 per barel, dan level ini terendah sejak 5 Juni. Harga minyak acuan Amerika Serikat juga melemah USD 1,3 atau 2,2 persen menjadi USD 58,33 barel, dan ini level terendah sejak 8 Juni 2015.

Sementara itu, dolar AS cenderung menguat terhadap euro, dan akhirnya penguatan terbatas. Dolar melemah membuat harga komoditas lebih baik bagi pemegang mata uang selain dolar AS. “Ini semua tentang Yunani. Tenggat waktu Iran soal nuklir juga jadi sentimen di awal pekan ini sehingga mendorong produksi minyak lebih besar pada pekan ini,” kata Tariq Zahir, Analis Laurel Hollow, seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa (30/6/2015).

Di awal pekan ini, Yunani menutup bank dan anjungan tunai mandiri (ATM). Ini memberikan rumor kalau Yunani bangkrut, apalagi belum ada kesepakatan antara pemerintahan Yunani dan kreditor.  Sejumlah analis menilai, harga minyak dapat kembali melemah seiring situasi Yunani belum ada penyelesaian hingga referendum pada pekan ini yang dapat menerima syarat dana talangan. “Ini waktunya akan kembali pecah level terendah, dan menuju USD 50 untuk harga minyak Brent, dan pasar menghadapi ketidakpastian pada pekan ini,” kata Bjarne Schieldrop, Kepala Riset SEB.

Terkait Iran, pejabat Amerika Serikat dan Iran menyatakan akan mematangkan masalah nuklir Iran pada 30 Juni 2015. Adanya kesepakatan tersebut akan mengakhiri sanksi barat terhadap Iran terutama ekspor minyak.

Selain itu, pelaku pasar juga fokus terhadap produksi dan permintaan minyak Amerika Serikat pada Selasa pekan ini. Perdagangan pun cenderung pendek karena libur hari kemerdekaan pada Jumat pekan ini. (lp6)