Krisis Ekonomi, Harga Jual Kopi dan Kakao Merangkak Naik

Krisis Ekonomi, Harga Jual Kopi dan Kakao Merangkak Naik
foto: situbondokab.go.id

Terjadinya krisis ekonomi global saat ini menyebabkan nilai tukar mata uang saat ini terus menguat. Hal itu ternyata berdampak pada harga jual komoditi perkebunan, yakni kopi dan kakao. Kedua komoditi yang kerap mengikuti harga dunia tersebut, kini terus merangkak naik.

“Memang komoditi perkebunan harganya mengikuti perkembangan harga dollar. Untuk kopi dan kakao peningkatannya sebenarnya tidak terlalu tinggi, tapi karena dollar terus menguat dan rupiah melemah sampai Rp 14 ribu lebih, maka harga jual jadi lebih mahal,” kata Kepala Dinas Perkbunan Jatim, Moch Samsul Arifien, Rabu (9/9/2015).

Ia menuturkan, saat ini harga kopi dunia untuk jenis arabika mencapai lebih dari 5 Dollar AS. Jika dikurskan pada nilai rupiah harganya bisa mencapai Rp 70 ribu per kilogram (kg). Sedangkan kopi jenis robusta nilainya sekitar U2,8-3 Dollar AS atau nilainya hampir sekitar Rp 45 ribu per kg. Namun, lanjutnya, saat ini panen komoditi kopi sudah hampir selesai dilakukan.

Sementara untuk komoditi kakao dunia bisa jauh lebih tinggi dari harga kopi. Untuk kakao jenis edel harganya mencapai 7 Dollar AS atau jika dikurskan dalam rupiah mencapai hampir Rp 100 ribu per kg. Sedangkan kakao rakyat kini harganya masih di kisaran 3 Dollar AS atau sekitar Rp 42 ribu per kg. Namun, lanjutnya, harga kakao di tingkat petani lokal kini masih sekitar Rp 31 ribu per kg.

Kendati demikian, Samsul optimistis dengan adanya iklim yang tegas dengan panas cuaca baik serta tidak ada hujan masih sangat bagus untuk komoditi perkebunan seperti kopi dan kakao. “Kalau cuaca tetap tegas seperti saat ini, maka produktivitas bisa lebih meningkat dan akan sangat menguntungkan petani, baik kopi ataupun kakao,” katanya.

Guna meningkatkan produksi kakao, pihaknya juga terus mencanangkan program kakao belt di sepanjang pantai Selatan diawali dari Donomulyo Malang, Udanawu Blitar, Nganjuk, Ngawi dan Pacitan. Dari Banyuwangi sampai Pacitan dalam kurun lima tahun terakhir target sebesar 35 ribu ton per tahun diyakininya tidak sulit untuk dicapai.

Sementara pengembangan kopi, saat ini lebih diprioritakan pada jenis arabika. Sejak tiga tahuh lalu, pihaknya juga mulai mengembangkan kopi arabika dengan menanam sebanyak dua juta bibit baru. Pengembangan itu dilakukan di enam daerah yang memiliki dataran tinggi di atas 800 meter di atas permukaan air laut (mdpl), yakni di Situbondo, Bondowoso, Jember, Malang, Lumajang, dan Probolinggo.

Pengembangan produksi kopi Arabika diupayakannya hingga mencapai 2.000 hektare. Pengembangan kopi arabika itu, juga mendapat rekomendasi dari Gubernur Jatim, Soekarwo untuk ditingkatkan lebih besar lagi, karena permintaan pasar yang masih cukup tinggi. Upaya dengan memperluas areal tanam itu juga mendapatkan dukungan dari Asosiasi Petani dan dilakukan dengan menggandeng Perhutani.

Ia menambahkan, permintaan kopi arabika yang harganya tergolong lebih mahal dari pada kopi robusta ini masih cukup tinggi, sehingga potensi pengembangannya kini tetap akan diupayakan. Jika dipersentasekan dari total produksi kopi Jatim, Kopi Robusta mampu mencapai 93 persen dan sisanya 7 persen jenis Arabika. (kmf/wh)