Kresnayana Yahya Beber Pola Bisnis di Tahun 2018

Kresnayana Yahya Beber Pola Bisnis di Tahun 2018

Kresnayana Yahya menghadiri acara acara Economic Forum di Grand City Corvex-Ballroom Surabaya, Jumat (8/12/2017). foto:arya wiraraja/enciety.co

Pada tahun 2018 mendatang, pola bisnis yang bakal berkembang adalah yang bersentuhan langsung dengan dunia digital. Pola bisnis akan mengalami perubahan sangat cepat dan tidak dapat diprediksi atau yang disebut Exponential Business 2018.

Hal itu ditegaskan Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult, dalam acara Economic Forum di Grand City Corvex-Ballroom Surabaya, Jumat (8/12/2017).

Menurut Kresnayana, dalam konsep Exponential Business 2018, masyarakat bakal mengenal demonetization dan dematerialization. Di kedua konsep tersebut, banyak dari para pelaku usaha yang membuat produk namun tidak menjualnya. Sebaliknya, para pelaku usaha membuat produk untuk dibagikan secara gratis.

“Contoh yang dapat kita lihat adalah hadirnya berbagai aplikasi penunjang kebutuhan kita sehari-hari, seperti aplikasi jasa pesan antar makanan yang disediakan oleh Go-Jek yakni Go-Food, aplikasi social media yang memudahkan kita berkomunikasi via teks dan telepon seperti WhatsApp, Facebook. Untuk memilikinya kita tinggal download secara gratis,” katanya.

Kresnayana menuturkan, pola bisnis semacam ini ke depan bakal terus berkembang. Lantas, hal menarik yang ada dalam pola bisnis tersebut adalah bagaimana para pelaku usaha menghasilkan pemasukan ketika produknya dibagikan secara cuma-cuma.

Menurut pakar statistik ITS Surabaya itu, perubahan pola usaha di tahun 2018 menuntut pelaku usaha untuk lebih kreatif dalam mencari sela mendatangkan pemasukan.

“Pemasukan yang mereka dapatkan tidak lagi sekadar berjualan produk. Lewat produk aplikasi yang mereka bagikan gratis, mereka dapat menjual jasa. Pola-pola usaha semacam inilah yang kedepan wajib kita cermati untuk ditiru,” tegas dia.

Dia menambahkan, dengan lebih berkembangnya pola-pola usaha baru, maka secara tidak langsung membuat para pelaku usaha menjadi lebih ingin berkolaborasi. Dengan makin tingginya niat berkolaborasi, secara tidak sadar para pelaku usaha memunculkan sifat win-win atau toleransi saling membangun usaha satu sama lain.

“Perkembangan pola bisnis yang dibawa era digital ini tidak lantas membawa sifat serakah antar pelaku usaha satu dengan yang lain. Hal tersebut dikarenakan pasar yang digarap sangatlah luas,” tegas dia. (wh)