Kresnayana: Surabaya Kini Jadi Mega Urban

Kresnayana: Surabaya Kini Jadi Mega Urban

Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Seiring percepatan pembangunan, Kota Surabaya telah bertransformasi menjadi mega urban dan bersinergis dengan kota-kota yang ada sekitarnya. Hal ini tidak lain dipicu makin terbukanya sarana tranportasi dari dan menuju Kota Surabaya.

“Contohnya kemarin, MERR Gunung Anyar telah diresmikan. Belum lagi akses jalan lain yang ada. Keterbukaan akses ini menjadi nilai tambah bagi kota untuk bisa berkembang. Namun, ke depan yang harus dipikirkan kota ini adalah akulturasi yang ditimbulkan dari perkembangan ini,” ata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (31/5/2019).

Menurut dia, transformasi Kota Surabaya ini juga harus diimbangi dengan menghidupkan kembali kultur lokal. Contohnya menu makanan semanggi, lontong balap dan lain sebagainya. “Menu-menu ini tidak ada di daerah lain. Jika kita bisa melestarikan budaya lokal, daerah kita bakal punya nilai tambah dari daerah-daerah lain,” cetus Kresnayana.

Kresnayana lalu menjelaskan, jika sepuluh tahun lalu, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya hanya sekitar Rp 1 triliun. Namunsekarang APBD Kota Surabaya diatas Rp 8,9 triliun. Belum lagi nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang kini nilainya Rp 500-600 triliun.

“Artinya, dengan makin berkembangnya segala fasilitas seperti taman dan fasilitas umum lain, Kota Surabaya telah mampu mengaktualisasi dirinya sendiri. Lalu, jika dilihat dari sudut pandang perekonomian, fasilitas-fasilitas umum tersebut tidak mendatangkan pemasukan. Namun, jika kota ini dijadikan jujugan untuk orang datang, Kota Surabaya bakal dapat berkembang,” papar Bapak Statistika Indonesia itu.

Kata dia, rata-rata pertumbuhan perekonomian kota Surabaya mulai 2011-2017, sebesar 6,73 persen dengan rata-rata perputaran uang di Kota Surabaya Rp 3 triliun per hari. Kota Surabaya juga merupakan kota belajar bagi 400 ribu orang. Bahkan, saat ini sekitar 40 persen mahasiswa yang belajar di kampus kota ini bukan merupakan warga asli Surabaya.

“Dampaknya, begitu para mahasiswa ini lulus, kultur asli Kota Surabaya ini dapat terbawa sampai ke segala penjuru Indonesia. Ini yang membuat Kota Surabaya bisa makin terkenal dan makin besar,” pungas Kresnayana. (wh)