Kresnayana: Produk Dalam Negeri Masih Terkendala Branding

Kresnayana: Produk Dalam Negeri Masih Terkendala Branding

Kresyanaya Yahya berbicara dalam acara Dialog Merah Putih bertajuk Gebyar Aku Cinta Produk Dalam Negeri di Atrium East Lobby Grand City Mall Surabaya, Jumat (18/8/2017) malam.

Hingga saat ini, masalah produk dalam negeri Indonesia masih terbentur masalah branding produk.

“Branding produk masih jadi batu sandungan bagi produk lokal untuk bisa diterima di level international. Padahal, dari segi kualitas, produk kita tidak kalah dengan produk asing,” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, saat menjadi pembicara pada acara Dialog Merah Putih bertajuk Gebyar Aku Cinta Produk Dalam Negeri di Atrium East Lobby Grand City Mall Surabaya, Jumat (18/8/2017) malam.

Dalam acara itu juga menghadirkan Hendi Setiono Owner Kebab Baba Rafi, Dr Irmadita Owner Aiola Eatery dan Gancar Premananto Direktur MM Unair.

Kresnayana mencontohkan, beberapa waktu lalu, ada satu cruise atau kapal pesiar yang membawa ribuan wisatawan asing singgah di Surabaya. Saat itu salah seorang turis dari kapal tersebut membeli satu produk minuman herbal jamu produksi pelaku usaha Pahlawan Ekonomi Surabaya.

“Mereka bertanya, ini minuman apa? Setelah mendapatkan penjelasan jika minuman tersebut adalah minuman herbal, lantas para turis asal Amerika Latin tersebut mencicipi dan memborong minuman tersebut,” ungkap Kresnayana.

Hal tersebut, sambung dia, merupakan salah satu bukti, bahwa produk lokal kita sebenarnya sangat digemari oleh luar negeri. “Namun, kesulitan yang dialami oleh para pelaku usaha lokal adalah membranding produknya agar lebih dikenal kualitasnya,” tegas Kresnayana.

Selain itu, dengan branding yang tepat, ada hal penting lain yang dapat dilakukan oleh para pelaku usaha. Menurut Kresnayana, kearifan lokal Indonesia dapat diperkenalkan lewat produk-produk pelaku usaha. Kearifan lokal tersebut tidak ada ditempat lain.

Contohnya kecap. Kresnayana bercerita, ada satu orang India yang pernah bekerja di Surabaya. Karena sering menikmati kecap sebagai bumbu pelengkap, hingga saat ini orang India tersebut selalu memesan kecap yang dikirim saban bulan ke India.

“Lewat contoh tersebut, seharusnya kita menyadari, bahwa banyak produk-produk asli kita yang tidak dapat dibuat diluar sana. Lantas, kedepan bagaimana cara kita sendiri untuk memperkenalkan produk-produk yang merupakan bagian dari kearifan lokal kita dapat dikenal di dunia,” terangnya. (wh)