Kresnayana : Perbankan Nasional Makin Melejit di 2016

Kresnayana : Perbankan Nasional Makin Melejit di 2016
Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (12/2/2016). Foto: arya wiraraja/enciety.co

Triwulan keempat 2015, Indonesia mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,04 persen tertinggi selama tahun 2015. Sedangkan ekonomi Indonesia Triwulan III-2015 Tumbuh 4,73 Persen, hal itu meningkat dibanding Triwulan II tahun 2015. Untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia Tahun 2014 tumbuh sekitar 5,02 Persen, melambat sejak lima tahun terakhir. Ini merupakan sebuah indikator positif bagi perekonomian Indonesia di tahun 2016. Hal tersebut, sesuai dengan data dari BPS, ( http://bps.go.id/Brs/view/id/1267 ), ( http://bps.go.id/brs/view/1200 ) dan  http://www.bps.go.id/brs/view/id/1114.

“Pertumbuhan ekonomi nasional keseluruhan kita tahun 2015 mencapai 4,8 persen dan Produk Domestik Bruto (PDB) harga berlaku kita sebesar Rp 11 ribu triliun dan harga konstan Rp 8.800 triliun. Dapat dikatakan, jika Indonesia ini diandaikan sebagai sebuah perusahaan mendapatkan profit Rp 11 ribu triliun dalam setahun,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue bertajuk “Tantangan Perbankan 2016” di Radio Suara Surabaya, Jumat (12/2/2016).

Ia lalu menjelaskan, Jawa Timur memiliki profit sebesar Rp 1.200 triliun. Dengan kata lain, profit yang didapat Jawa Timur mencapai 10 persen dari total profit yang didapat dari PDB nasional 2015.

Pada tahun 2016, perekonomian nasional diprediksi tumbuh sebesar 5,3 hingga 5,6 persen. Prediksi positif itu didasari oleh nilai inflasi nasional 2015 yang hanya mencapai 3,35 persen. Selain itu, pada Januari 2015 lalu, nilai inflasi nasional tercatat 0,51 persen.

Bahkan, sebut Kresnayana, Bank Indonesia menyebutkan jika pada Februari 2016 kita mengalami deflasi. Selain itu, kondisi rupiah saat disedang menguat di kisaran Rp 13.400 per 1 dolar AS. “Dapat disimpulkan kondisi ekonomi kita saat ini sangat stabil,” cetusnya.

Menurut pakar statistika ITS Surabaya itu, ada semacam gejolak dalam pasar uang dunia yang disebabkan oleh Central Bank Jepang yang saat ini menggunakan acuan suku bunga negative, minus 0,3 persen. Selain Jepang, Central Bank Eropa juga menggunakan acuan yang sama.

“Analogi sederhananya adalah, saat ini mereka kebanjiran uang. Namun mereka tidak ingin menaikkan suku bunga dan memilih menyimpan uang mereka di bank. Karena, jika uang ini dilepas ke pasaran, maka akan terlalu berisiko. Ini karena pertumbuhan perekonomian mereka tidak terlalu signifikan,” paparnya.

Kresnayana mencatat, hal yang tidak jauh berbeda dialami oleh Amerika. Namun, keadaan berbeda terjadi di Indonesia. Pemerintah Indonesia berlomba menggelontorkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur.

“Bayangkan, dari Rp 2 ribu triliun, Rp 700 triliun digelontorkan untuk pembangunan daerah dan Rp 400 triliun  untuk infrastruktur. Terlebih, kita juga tertolong harga BBM dunia yang saat sedang turun. Karena kita tidak benar-benar menjadi produsen BBM, maka dapat dikatakan perekonomian kita berdampak positif akan hal tersebut,” ulas dia.

Dalam dua tahun terakhir, ungak Kresnayana, jika kita tidak pernah mendengar jika ada bank yang bermasalah, hal ini menandakan jika dunia perbankan kita stabil dan sehat.

“Dari hasil evaluasi 10 tahunan, pertumbuhan jasa perbankan termasuk yang paling baik, tumbuh di atas 12 persen. Selain itu, masyarakat kita telah memiliki kesadaran finansial dengan menginvestasikan dananya di sektor- sektor produktif selain sektor konsumtif. Contohnya, mereka menginvestasikan dana mereka ke Reksadana, BPJS, dan lain sebagainya,” urai dia.

Menurut dia, kemajuan pelayanan perbankan yang saat ini sebagian besar telah menggunakan komputer dan digital membuat nasabah lebih nyaman.

“Dengan menggunakan komputer dan digitalisasi bank saat ini, dunia perbankan juga dapat menghemat ongkos operasionalnya,” ungkap dia.

Lantas, ia juga menyebutkan jika ke depan dunia perbankan akan menurunkan suku bunga pinjaman bank menjadi single digit. “Langkah ini juga dapat membuat dunia perbankan menjadi semakin maju,” pungkas dia. (wh)