Kresnayana: Peluang Ekspor Jatim Terbuka Lebar

Kresnayana: Peluang Ekspor Jatim Terbuka Lebar
(ki-ka) Ketua GPEI Jatim Isdarmawan, Johan Suryadarma (Vice President I AP5I), Kresnayana Yahya mengisi Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (10/10/2010).

Pangsa pasar tujuan ekspor baik ke negara Eropa, Asia, maupun ASEAN dari Provinsi Jatim sangat terbuka lebar. Negara-negara tersebut sangat membutuhkan berbagai produk yang dihasilkan dari Jatim. Mulai hasil-hasil dari sumber daya perikanan, laut, furniture, perkebunan dan lain sebagainya.

“Segala potensi di Jatim masih bagus untuk diekspor dan banyak peluang yang bisa diraih,” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (10/10/2014).

Menurut dosen statistika ITS Surabaya ini, data yang diperoleh tercatat di Jatim masih 70 persen ekspor berupa bahan dan 30 persen berupa manufaktur. Dengan besarnya bahan-bahan yang bisa diolah akhirnya mengundang investor untuk membuka pabrik baru di Jatim.

“Sekarang ini kita unggul untuk pembuatan barang elektronik, yaitu tembaga yang sangat besar permintaannya,” ujarnya.

Di Jatim sendiri untuk pembuatan tembaga masih dipegang PT Smelting yang bertempat di Gresik. Ia berharap agar pengusaha Indonesia bisa meniru jejak perusahaan tersebut. Dengan permintaan yang besar dapat meningkatkan perekonomian di Jatim.

“Ini memberikan prospek dimana bisa mengacu tantangan ekspor ke luar negeri. Semua pihak harus bekerjasama dan bekerja keras untuk bisa meraihnya,” lanjutnya.

Senada dengan Kresnayana Yahya, Ketua Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Jatim Isdarmawan Asrikan mengatakan, pihaknya optimistis dapat mencapai nilai ekspor USD 15 miliar. “Kami sangat optimis mencapai nilai itu. Dan ini harus didukung oleh pemerintah,” tandas Isdarmawan.

Menurut dia, tercatat di sektor pertanian menyumbangkan nilai ekspor yang besar. Dicontohkannya seperti edamame dan biji kangkung yang diekspor ke negara China berasal dari kabupaten Lamongan. Sayangnya ada keputusan dari MA yaitu hasil pertanian dan perkebunan dikenakan nilai pajak 10 persen.

“Kita harap pemerintah memperhatikan hal tersebut. Juga pemerintah harus menyediakan infrastruktur di pelabuhan yang memadai yaitu kelancaran jalan di pelabuhan,” ujarnya.

Sementara itu, Johan Suryadarma, Vice President I Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), mengatakan apa yang dimiliki Jatim dan potensi pasar di dunia harus ditingkatkan. Ia mencontohkan permintaan ikan di negara Jepang sangat besar. Negara itu setiap tahunnya meminta kepada pengusaha Jatim untuk terus memaksimalkan nilai ekspornya.

“Mereka (Jepang red) meminta ikannya yang diambil hanya dagingnya saja. Dan itu harus kita kembangkan,” kata Johan Suryadarma.

Yang dikeluhkan adalah infrastruktur di Jatim yang bermasalah. Karena negara Jepang mintanya ikan yang fresh seperti udang harus hidup dan meloncat waktu dikirim atau dikemas.

“Kita hanya bisa mengakal lewat video untuk ditunjukkan bahwa kiriman ikan atau udang itu masih hidup,” ujarnya lalu tertawa.

Ia meminta agar pemerintah bisa menghidupkan kereta api dari Jakarta sama Banyuwangi untuk dapat membawa kontainer berisi ikan dan udang hidup. Kata dia, sangat riskan hanya menggantungkan kepada truk pengangkut kontainer.

“Padahal kontainer itu beratnya 40 ton dan jalannya buruk. Ini memperlambat dan membuat hasil ekspor jadi terhambat,” cetusnya. (wh)