Kresnayana: Miris, Jumlah Pengguna Narkoba Naik 3 Persen Per Tahun

Kresnayana: Miris, Jumlah Pengguna Narkoba Naik 3 Persen Per Tahun
Kepala BNN Komjen Anang Iskandar (kiri) dan Kresnayana Yahya menghadiri Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (17/10/2014).

Jumlah pengguna narkoba di Indonesia terus menerus meningkat dari tahun ke tahun. Tidak peduli remaja, orang tua, maupun orang miskin sekalipun ikut kecanduan narkoba. Bagu orang kaya, narkotika yang disukai adalah ineks dan sabu. Sedang pecandu yang tak punya uang lebih suka mengonsumsi pil koplo.

Chairperson Enciety Consult Business Kresnayana Yahya mengatakan, kenaikan pecandu tersebut tidak hanya membuat membuat miris, tetapi juga harus ada solusi untuk memecahkannya.

“Bayangkan, dalam rentang waktu sepuluh tahun ini ada 4,5 juta pengidap kecanduan narkoba di Indonesia,” ujarnya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (17/10/2014).

Dia lalu mengatakan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) para pengguna atau pecandu serta pengedar setiap tahunnya naik 3 persen. Paling banyak yang terjerat narkoba adalah anak-anak atau remaja yang mencapai 30-40 persen.

“Ini yang terlacak dan ketahuan. Itu bukti anak muda mengalami kekosongan jiwa,” terang dosen statistika ITS Surabaya ini.

Menurut dia, kenaikan pemakai narkoba dari anak atau remaja karena tidak adanya kegiatan yang positif. Dan anak muda kaya yang paling banyak karena lebih menggantungkan mudahnya mendapatkan narkoba dari pembelian uang saku keluarganya.

“Kita harus bersama-sama menanamkan mindset agar masyarakat sadar. Dari tingkat atas hingga ke bawah,” ujarnya.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Anang Iskandar mengatakan keprihatinannya dengan banyaknya para pecandu yang setiap tahun bertambah. Kata dia, pihak BNN baik pusat hingga daerah berkewajiban ingin menjelaskan bahaya tentang narkoba dan hanya itu saja.

“Karena kasus narkoba sendiri tidak akan pernah selesai penanganannya. Baik di dunia maupun di Indonesia. Yang jadi masalah adalah seperti benang kusut,” kata jenderal berbintang satu tersebut.

Narkoba kini jadi lifestyle atau menjadi gaya hidup dan hiburan. Dan sudah merambah atau sudah mulai masuk ke desa-desa. Walau sudah diketahui benang merahnya, namun bila tidak didukung bersama masyarakat lain maka bisa dibilang mubazir.

“Orang tua yang paling berperan terhadap anaknya untuk menyuruh menghindari narkoba. Dan bila anaknya sudah kena jangan malu lapor ke kami agar dapat direhabilitasi. Jangan malah disembunyikan,” sahutnya.

Dengan rehabilitasi bagi pengguna narkoba diharapkan dapat melakukan pencegahan untuk tidak mengulangi dan mencegah masuk lebih ke dalam lagi. “Inilah peran rehabilitasi karena pengguna narkoba biasanya gak mau sembuh,” sahutnya.

Rehabilitasi narkoba mulai dari treatment medis, sosial dan agama. Banyak masyarakat yang muncul menggunakan agama seperti Abah Anom di Jawa Barat. Dan itu masih kurang. “Kenapa gak bisa seluruh Indonesia,” cetus Anang Iskandar. (wh)