Kresnayana: Majukan Ekonomi Nasional Lewat Investasi Saham

Kresnayana: Majukan Ekonomi Nasional Lewat Investasi Saham

Asikin Ashar (Perwakilan Wilayah Kantor Bursa Efek Perwakilan) Surabaya dan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (4/2/2016). foto: arya wiraraja/enciety.co

Ekonomi Indonesia bergerak konstruktif. Itu ditandai inflasi bulanan Indonesia yang terbilang kecil dan inflasi tahunan mencapai 4 persen. Terkait hal itu, bunga deposito juga akan diturunkan, seperti yang terjadi di Eropa dan Jepang yang malah memberlakukan suku bunga negatif.

Menurut Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, saat ini langkah yang diambil pemerintah adalah dengan meningkatkan investasi di sektor pembangunan infrastruktur yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.

“Untuk mendongkrak perkembangan investasi di sektor riil, pemerintah juga banyak menurunkan beberapa tarif dasar energi kebutuhan pokok masyarakat. Di antaranya, penurunan BBM, tarif dasar listrik (TDL) dan lain sebagainya,” ujarnya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (4/2/2016).

Kata Kresnayana, langkah pemerintah tersebut merupakan cara untuk menyejahterakan masyarakat. Namun, Indonesia masih mengalami kelebihan uang yang ada di masyarakat. “Kelebihan uang tersebut harus dipandu agar tidak habis percuma,” cetus pakar statistika ITS Surabaya itu,

Ia menambahkan, agar uang tidak nganggur saatnya masyarakat berinvestasi. Tercatat dalam satu bulan, produk barang atau jasa dengan konsumen rumah tangga mencapai 11,7 persen. Sedang investasi produk manufacturing dalam sebulan sahamnya naik mencapai 10,38 persen. Di bidang infrastruktur meningkat 1,69 persen dan untuk saham gabungan kurang lebih mencapai 5,42 persen.

Di sektor pertambangan yang dikabarkan lesu, dalam sebulan malah naik 9,28 persen. Bahkan jika dilihat kurun waktu 6 bulan terakhir, angkanya mencapai 19,8 persen.

“Hal tersebut dapat diartikan jika tingkat konsumsi kita saat ini sangat bagus. Dapat dibilang, angka-angka tersebut merupakan panduan bagi masyarakat untuk berinvestasi. Entah itu bentuknya saham, reksadana, atau berupa obligasi,” jelas dia.

Kata dia, masyarakat mesti harus diberikan bekal pengetahuan tentang investasi, terutama dalam bentuk saham. Karena, banyak masyarakat masih menganggap jika investasi dalam bentuk saham memiliki risiko tinggi, padahal tidak demikian.

Sementara itu, Asikin Ashar, Perwakilan Wilayah Kantor Bursa Efek Perwakilan Surabaya, mengatakan jika saat ini masyarakat harus diberi pengertian bahwa banyak keuntungan didapat ketika berinvestasi dalam bentuk saham.

Menurut dia, saham merupakan bukti surat kepemilikan sebuah perusahaan. “Contohnya jika kita sering mengonsumsi mi instan dan kita memiliki saham atas perusahaan mi instan tersebut. Dengan memiliki saham, kita mendapatkan keuntungan yang dinamakan deviden,” ulas Asikin.

Ia lalu menjelaskan, saat ini bursa efek memiliki program yang dinamakan ‘Yuk Nabung Saham’. Program bertujuan untuk memperkenalkan pada masyarakat kalau berinvestasi saham maka kita dapat menabung uang kita.

“Bukan hanya lewat tabungan deposito saja kita dapat nabung sekaligus menghasilkan pendapatan pasif. Pada umumnya nilai investasi nilainya bermacam-macam. Namun untuk mahasiswa yang ingin berinvestasi minimal kita menyediakan dengan nilai Rp 100 ribu,” ulas dia.

Menurut dia, masyarakat harus tahu semua investasi memiliki risiko, tapi saat ini bursa efek punya cara jitu mengelola dan meminimalissasi risiko kerugian dalam berinvestasi. “Kebanyakan, ketakukan masyarakat akan kerugian investasi saat ini sering terjadi dan yang diberitakan adalah investasi bodong,” tegasnya.

Menurut dia, untuk menyadarkan masyarakat terkait pentingnya investasi saham, bursa efek sering mengadakan edukasi keberbagai kampus-kampus. “Selain itu, kami juga menggelar sekolah pasar modal yang akan diadakan dalam waktu dekat. Langkah tersebut kami lakukan untuk dapat memberikan ilmu kepada masyarakat agar mampu mengelola risiko investasi,” ulas dia.(wh)