Kresnayana: Jelang MEA, Banyak Negara ASEAN Belajar Bahasa Indonesia

Kresnayana: Jelang MEA, Banyak Negara ASEAN Belajar Bahasa Indonesia

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya saat memberikan seminar di acara MDMedia Telkom Indonesia di Hotel Mercure Surabaya, Rabu (22/10/2014).

Dibandingkan dengan masyarakat di Tanah Air, kesiapan masyarakat di sejumlah negara ASEAN dalam menghadapi ASEAN Economic Comunity (AEC) atau biasa disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, justru lebih siap.

Hal ini diungkapkan oleh Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya. Kata dia, sejumlah negara ASEAN telah jauh-jauh hari belajar bahasa Indonesia untuk bisa masuk pasar Indonesia.

“Negara-negara di ASEAN saat ini sedang sibuk belajar bahasa Indonesia. Sampai-sampai perundang-undangan hingga peraturan cara memasukkan barang di Carrefour atau Indomart saja mereka sudah pelajari,” ungkap Kresnayana Yahya saat memberi seminar dalam acara MDMedia Telkom Indonesia di Hotel Mercure Surabaya, Rabu (22/10/2014).

Dikatakan dosen statistika ITS Surabaya itu, dari catatannya sejumlah dokter dan perawat di Filipina saat ini tengah belajar bahasa Indonesia agar bisa bekerja menjadi tenaga medis di Indonesia.

“Dokter dan perawat dari beberapa rumah sakit banyak yang sudah belajar bahasa Indonesia. Selain itu, para investor kini bahkan tengah belajar bagaimana caranya mendistribusikan barang dagangannya ke Carrefour atau Indomart,” bebernya.

Padahal, sambung Kresnayana, Indonesia belum siap secara penuh untuk menghadapi pasar bebas tersebut. “Dari total 627 juta penduduk di seluruh ASEAN, Indonesia belum bisa berkontribusi menjadi pasar dan pelayanan. “Kita masih kalah,” ungkap dia.

Meski begitu, peluang pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa dilihat di Surabaya. Artinya, pada 10 tahun mendatang, tidak menutup kemungkinana jika Surabaya bukan lagi sebagai Kota Perindustrian, melainkan sebagai Kota Finance.

“Ini karena Surabaya menjadi pusat distribusi untuk Indonesia Timur. Semua aktivitasnya berpusat di Surabaya,” tuturnya.

Kresnayana lalu mengatakan, dibutuhkna peran teknologi yang cepat, dan produk itulah yang akan dikenal masyarakat. Ini karena teknologi sudah tidak lagi dianggap sebagai ilmu pengetahuan semata, tapi dapat menentukan arah bisnis ke depannya.

“Siapa yang tidak bisa menggunakan teknologi untuk mengembangkan bisnisnya maka akan cepat tertinggal, dan dilupakan,” tambahnya.

Untuk itu, tantangan Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, menurut Kresnayana, sedikitnya butuh sedikitnya lima poin. Di antaranya harus merancang kebijakan di level daerah untuk merangsang ekonomi. Kemudian berfokus untuk melakukan pembangunan di tingkat desa.

“Selain itu, di maritim kita itu ada Rp 14 ribu triliun yang belum kita gali. Pemerintah harus mengembangkan dunia maritim dan membangun infrastrukturnya. Selain itu, melakukan intergrasi dan pemahaman bersama antara masyarakat, pengusaha, pemerintah, hingga education finance dan sosial,” urainya. (wh)