Kresnayana: Industri Kreatif Harus Ditingkatkan

Kresnayana: Industri Kreatif Harus Ditingkatkan
Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Masyarakat harus terus berinovasi guna menghadapi tantangan yang makin besar di masa mendatang. Perlambatan ekonomi di berbagai bidang, memberikan semacam tanda bagi bangsa Indonesia untuk harus berubah. Komoditas ekspor seperti logam, coklat kini keberadaannya tidak lagi bisa diandalkan.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengatakan dewasa ini industri kreatif harus ditingkatkan karena Teknologi  Informasi (TI) negara Indonesia kalah dengan negara luar negeri seperti India, China, Hongkong dan Singapura.

“Bila mau migrasi ke TI, juga ada persoalan yang serius yaitu siapa yang mau dan bisa menjadi trainer, transformer, dan yang  mengintegrasikannya,” kata Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (27/11/2015).

Menurut dosen statistika ITS Surabaya itu, bila seorang pekerja atau pegawai tidak ada pelatihan TI maka akan timbul kesemrawutan dan berakibat buruknya kinerja para pekerjanya. Dicontohkannya di China dan India, service sector di negara tersebut diperhatikan. Bahkan, negara Hongkong dan Singapura sekarang kuat di service sector.

“Bila perusahaan yang baik, maka akan memilih TI dibanding pekerjakan manusia karena akan menghasilkan profit yang tinggi.  Anak muda yang menjadi pekerja di outlet seperti supermarket yang menggunakan TI lebih banyak,” ujarnya.

Dengan menggunakan TI, perizinan dan birokrasi yang berkaitan dengan biaya logistik bisa ditekan. Yang kedua, cost of money atau bunga bank negara Indonesia masih terlalu tinggi se-Asia yaitu suku bunganya mencapai 7 persen.

“Suku bunga tinggi itu yang membuat kita kalah dengan siapa saja. Padahal BI saja mengakui sulit untuk menurunkan suku bunga,” terusnya.

Dengan skala penduduk Indonesia yang kini mencapai 260 juta, 70 persennya atau 130 juta berusia di bawah 27 tahun, diharapkan anak muda tidak perlu jadi pegawai.

Saat ini merupakan saat yang tepat melakukan restrukturisasi dan diharuskan fokus dengan kemampuannya sendiri. Contohnya pengusaha pabrik sepatu, bisa saja memberikan kepercayaan yang lebih kepada pegawainya yaitu mandor untuk membuka, mengawasi, dan menjalankan pembuatan alas kaki di luar pabrik. Bahan semuanya diberikan oleh pabrik pusat, sedang pembuatan di UKM yang berada di bawah mandor. Nantinya pemilik pabrik tidak perlu lagi memakai upah UMK untuk membayar barang yang dihasilkan lagi karena sudah merupakan borongan para pekerjanya.

“Pabrik pusat hanya ide, buat harga dan tinggal menyerahkan saja. Dengan inovasi yang berbeda akhirnya diperoleh pengembangan secara efisien. Seperti sepatu wanita, sandal wanita,” jelasnya. (wh)