Kresnayana: Indonesia Butuh Investasi di Sektor Riil

Kresnayana: Indonesia Butuh Investasi di Sektor Riil
Kresnayana Yahya. foto:arya wiraraja/enciety.co

Indonesia sangat membutuhkan investasi di sektor riil. Dimana, Indonesia membutuhkan investasi yang mampu menyerap tenaga kerja. Ini karena saban tahunnya Indonesia memiliki 3,5 juta orang yang membutuhkan lapangan pekerjaan.

Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult, mengungkapkan jika investasi dalam bentuk sektor riil juga dibutuhkan untuk mengimbangi nilai investasi pemerintah yang mencapai Rp 400 triliun di sektor infrastruktur.

“Saat ini, nilai inflasi Indonesia yang rendah dan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp 13,5 ribu per dolar. Ditambah lagi cadangan devisa Indonesia yang mencapai USD 110 miliar. Lalu, account deficit Indonesia di bawah 2 persen. Indikator-indikator positif tersebut menandakan jika 2016 saat ini, Indonesia memiliki iklim investasi yang bagus,” ujar Kresnayana dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (26/2/2016).

Kata dia, hal tersebut akan berimbas pada pengendalian bunga deposito oleh pemerintah. Uang pemerintah yang ada dalam bank pemerintah hanya diberikan bunga sebesar 5 pesen. Langkah tersebut diambil untuk membatasi agar uang pemerintah tersebut digunakan dengan semestinya dan tidak digunakan untuk hal-hal yang lain.

Kresnayana mengimbuhkan, uang masyarakat di Bank Indonesia (BI) saat ini kurang lebih mencapai Rp 4.000 triliun. Hal tersebut dirasa kurang baik, karena sangat disayangkan jika uang tersebut hanya dibiarkan di dalam bank tanpa diinvestasikan.

Menurut pakar statistic itu, kondisi sektor riil saat ini terbilang paradox. Ini karena para pelaku usaha dalam sektor riil saat ini ada yang mengungkapkan jika menurun, namun banyak juga yang di antaranya mengatakan jika usaha dalam sektor ini meningkat.

Kresnayana lalu mencontohkan ada satu pelaku usaha angkutan yang saban tiga bulan sekali menambah armadanya karena kebanjiran permintaan.

“Kreativitas dan inovasi sangat diperlukan dalam melakoni usaha dalam bidang sektor riil. Kita harus pintar mencari peluang yang tidak biasa, karena ke depan kita akan menghadapi beberapa tantangan baru,” urai dia.

Dia menjelaskan, banyak barang yang sebelumnya tidak seberapa dibutuhkan menjadi sangat dibutuhkan dan memiliki nilai ekonomi. Contohnya, dengan adanya kebijakan diet plastik. Nanyak supermarket yang menyediakan kotak- kotak bekas sebagai pembungkus pengganti kantong plastik.

“Dengan kata lain, banyak peluang dan keuntungan didapat ketika kita berani berinvestasi. Jika dihitung secara matematis, keuntungan yang dapat diperoleh saban bulan kurang lebih mencapai 15 persen dengan risiko yang kecil, ketimbang kita hanya mendepositokan uang kita dengan asumsi bunga 5 persen saban tahunnya,” urai dia. (wh)